Sunday, 26 October 2025

Hubungan Industrial 4 : Dari Kunjungan ke RSP Box: Belajar Humanisme Industri dari Pabrik Kardus

 


Halo teman-teman! 👋
Beberapa waktu lalu, kami mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi melakukan kunjungan industri ke RSP Box, sebuah pabrik kardus yang bergerak di bidang packaging untuk berbagai kebutuhan online shop. Kunjungan ini bukan sekadar jalan-jalan akademik, tapi juga kesempatan buat ngobrol langsung dengan Bapak Tasroni, pemilik RSP Box, dalam sesi podcast yang seru banget bareng dosen pembimbing kami, Ibu Serepina.

Awal Mula Cerita

Begitu tiba di lokasi, suasana pabrik langsung terasa hidup. Suara mesin pemotong dan lipatan kardus bersahutan dengan tawa para pekerja.
Pak Tasroni menjelaskan bahwa RSP Box memang bukan perusahaan raksasa masih tergolong UMKM, tapi punya peran penting dalam rantai industri digital.
Produk mereka digunakan oleh berbagai pelaku usaha online yang kini menjamur di marketplace.
“Sekarang hampir semua butuh kemasan,” kata beliau sambil tersenyum. “Dari toko baju sampai penjual camilan, semua ingin produk mereka dikemas rapi dan aman.”

Dari Kardus ke Nilai Kerja

Yang menarik, di balik tumpukan kardus itu tersimpan nilai hubungan industrial yang humanis.
Pak Tasroni menekankan bahwa pekerjanya bukan sekadar tenaga produksi, tapi bagian dari keluarga besar RSP Box.
“Kalau karyawan nyaman, hasil kerja juga bagus,” ujarnya.

Pendekatan sederhana ini justru mencerminkan konsep human capital bagaimana SDM menjadi aset utama perusahaan, bukan sekadar biaya operasional.
Ibu Serepina, selaku dosen pembimbing, menambahkan bahwa pola seperti ini penting di tengah era digital dan otomatisasi. “Mesin bisa menggantikan kecepatan, tapi bukan empati,” katanya.

Pesan itu menancap kuat buat kami sebagai mahasiswa komunikasi: teknologi boleh maju, tapi hubungan manusia tetap fondasi utama industri.

Tantangan dan Adaptasi

Dalam podcast, Pak Tasroni juga bercerita tentang tantangan menjalankan UMKM di bidang produksi.
Mulai dari fluktuasi harga bahan baku, permintaan pasar online yang cepat berubah, sampai soal menjaga produktivitas tanpa mengorbankan kesejahteraan pekerja.
Ia mengaku, kunci bertahan ada pada komunikasi yang terbuka antara pemilik dan karyawan.
“Kalau ada masalah, kita bahas bareng. Jangan disimpan,” katanya.

Sebagai mahasiswa FIKOM, kami melihat langsung bagaimana teori komunikasi organisasi dan hubungan industrial diterapkan nyata di lapangan.
Dialog antara pimpinan dan pekerja bukan cuma formalitas, tapi budaya kerja yang membangun kepercayaan.

Belajar Lebih dari Sekadar Produksi

Kunjungan ini bikin kami sadar bahwa industri sekecil apa pun bisa jadi ruang belajar besar.
Dari pabrik kardus sederhana, kami belajar tentang:

  • bagaimana komunikasi menentukan keharmonisan kerja,

  • pentingnya menghargai setiap individu di tempat kerja,

  • dan bagaimana UMKM bisa tetap relevan di era digital lewat adaptasi dan empati.

Penutup

Pulang dari RSP Box, saya jadi berpikir: mungkin kardus yang sederhana itu justru simbol dari sesuatu yang penting wadah yang melindungi, menyatukan, dan menjaga isi di dalamnya.
Begitu juga dunia kerja; dibutuhkan “wadah” hubungan yang kuat antara manusia, teknologi, dan nilai.

Di balik tumpukan kardus dan suara mesin, saya belajar satu hal:
Industri yang produktif bukan hanya soal kecepatan produksi, tapi tentang bagaimana manusia di manusiakan.


Butuh Kardus atau Kemasan untuk Usaha Kamu?

Kalau kamu lagi cari tempat bikin box packaging, kardus custom, atau kemasan untuk bisnis online,
langsung aja hubungi CV. RSP BOX tempat kami belajar banyak hal tentang industri yang humanis dan berkualitas!

CV. RSP BOX
Kontak: 0858-4227-7363 (Pak Ronny)
Alamat: RT.003/RW.002, Sumur Batu, Kec. Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat 17154
Instagram: @RspBox
TikTok: @RspBox
WhatsApp: 0858-4227-7363

Karena di balik setiap kemasan yang kuat, ada semangat kerja dan hubungan manusia yang kokoh 💪


Wednesday, 22 October 2025

Magang 2 : Kreativitas dan Inisiatif dalam Pekerjaan: Belajar dari Pengalaman Membuat Materi "Bahaya Judi Online"




Halo Genks!

Pernah nggak sih kita punya ide bagus banget buat kebaikan bersama, tapi ternyata pas mau dijalankan… mentok di persetujuan atau malah ditolak?

Nah, pengalaman ini benar-benar ngasih pelajaran penting tentang bagaimana kreativitas, komunikasi, problem solving, dan adaptasi berperan besar dalam dunia kerja. Yuk, kita bahas bareng-bareng!

Awal Mula Ide: Inisiatif yang Datang dari Keprihatinan dan Observasi

Waktu itu saya sering ngobrol sama beberapa mitra ojek online, dan dari cerita-cerita mereka, kita mulai sadar kalau judi online mulai jadi masalah serius.
Banyak yang awalnya cuma “iseng”, tapi lama-lama jadi kecanduan gimana ga kecanduan karena untuk isi saldo atau bahasanya "Depo" itu bisa dari 5000 rupiah aja. Dampaknya bukan cuma keuangan, tapi juga perilaku kerja yang mengarah ke fraud seperti meminta tambahan biaya melebihi argo, memalsukan alasan parkir atau tol, bahkan sampai mengambil barang pelanggan.

Sebagai bagian dari tim yang peduli dengan integritas mitra, kita punya inisiatif untuk membuat materi edukasi tentang bahaya judi online. Tujuannya sederhana: mencegah sebelum terlambat.

Proses Kreatif: Dari Ide ke Aksi

Kita mulai menyusun konsep komunikasinya dengan gaya yang ringan, tapi tetap menyentuh sisi emosional.
Isinya tentang bagaimana judi online bisa menghancurkan keuangan dan kepercayaan pelanggan, disertai contoh nyata yang sering terjadi di lapangan.
Setelah konsepnya siap, kita ajukan ke manajer untuk approval, dan ternyata langsung disetujui! Wah, rasanya seperti langkah kecil menuju perubahan besar.

Tantangan: Ketika Ide Harus Diubah

Tapi ternyata, belum sempat di-blast ke mitra, tim marketing komunikasi melihat materi tersebut dan mengajak kita berdiskusi.
Mereka bilang, topik judi online ini cukup sensitif dan bisa dianggap terlalu mencampuri urusan pribadi mitra.
Akhirnya, setelah beberapa kali diskusi, materinya nggak jadi tayang.
Sebagai gantinya, disepakati untuk mengubah arah komunikasinya menjadi pelatihan “Cara Mengatur Keuangan Secara Sehat untuk Mitra”.

Seperti dijelaskan oleh Ibu Sere dalam pertemuan 2 di mata kuliah Hubungan Industrial (2025), dinamika kelompok berarti adanya hubungan saling ketergantungan di antara anggota tim yang bisa berubah sewaktu-waktu. Hal ini terasa banget ketika ide awal kami tentang materi “bahaya judi online” akhirnya berkembang menjadi pelatihan “pengelolaan keuangan mitra” setelah berdiskusi lintas tim.

Awalnya, jujur aja, agak kecewa. Tapi dari situ kita belajar banyak tentang pentingnya adaptasi dan komunikasi lintas tim.

Soft Skill yang Benar-Benar Terpakai

Dari pengalaman itu, kita sadar bahwa keberhasilan ide bukan cuma soal seberapa bagus gagasannya, tapi juga bagaimana kita mengomunikasikan dan menyesuaikannya dengan konteks organisasi.

Beberapa soft skill yang benar-benar terasa penting di sini antara lain:

  • Komunikasi:
    Menyampaikan ide dengan jelas dan terbuka ke berbagai pihak, termasuk mendengar alasan kenapa ide bisa ditolak.

  • Problem Solving:
    Saat ide awal ditolak, kita nggak berhenti di situ. Kita mencari cara lain agar pesan intinya tetap tersampaikan misalnya lewat edukasi pengelolaan keuangan.

  • Adaptasi:
    Dunia kerja itu dinamis. Kadang kita harus menyesuaikan diri tanpa kehilangan semangat dan tujuan utama.

Refleksi: Kreativitas Bukan Soal Hasil, Tapi Proses

Dari pengalaman ini, kita harus paham bahwa inisiatif dan kreativitas nggak selalu langsung berhasil, tapi setiap langkah yang kita ambil pasti selalu menambah pengalaman berharga.
Yang penting bukan cuma ide kita disetujui, tapi bagaimana kita bisa terus berkontribusi positif dengan cara yang bisa diterima bersama.

Pada akhirnya, meskipun pesan tentang “bahaya judi online” nggak tayang dalam bentuk awalnya, pesan moralnya tetap hidup lewat versi baru yang lebih diterima dan tetap membawa dampak baik bagi mitra.

Penutup

Kreativitas dan inisiatif dalam pekerjaan bukan cuma soal berani beda, tapi juga soal mau belajar, beradaptasi, dan tetap komunikatif.
Setiap ide punya perjalanan dan tantangannya sendiri, dan kadang dari ide yang ditolak justru muncul inovasi yang lebih baik.

Jadi, kalau kita punya ide baik, jangan takut mulai dulu. Karena dari proses itulah kita belajar menjadi pribadi yang lebih tangguh, terbuka, dan solutif di dunia kerja.

Sumber : 

Sumber:

Serepina T. Iur Maida, “Faktor Hubungan dengan Manusia dan Dinamikanya” (Materi pertemuan 2 Hubungan Industrial, Universitas Mpu Tantular)

Wednesday, 15 October 2025

Hubungan Industrial 3 : Dinamika Kelompok - Pondasi Kerja Tim yang Hidup dan Produktif

 



Halo Genks! 👋
Pernah nggak sih ngerasa kalau kerja tim itu kadang bisa super produktif, tapi di lain waktu malah bikin pusing? Padahal tugasnya sama, orangnya juga itu-itu aja. Nah, di sinilah pentingnya kita paham tentang dinamika kelompok dan hubungan manusia dalam dunia kerja.

Kalau di dunia hubungan industrial, fokusnya bukan cuma antara pekerja dan atasan, tapi juga gimana interaksi manusia di dalam tim bisa berjalan sehat dan saling menguatkan. nyok kita bahas bareng-bareng!


Apa sih Dinamika Kelompok?

Menurut Ibu Sere dalam materinya di pertemuan ke 2 dalam mata kuliah Hubungan Industrial, “dinamika kelompok adalah adanya interaksi dan interdependensi di antara anggota kelompok dengan kelompok secara keseluruhan”. Artinya, tiap orang dalam tim saling terhubung dan nggak bisa berdiri sendiri

Kata “dinamis” di sini penting banget nih karena tim bisa berubah kapan aja. Kadang semangat, kadang lelah, kadang juga muncul konflik kecil yang akhirnya bisa ganggu komunikasi dalam tim.

Dalam konteks hubungan industrial, dinamika ini menentukan apakah kerja tim bisa harmonis atau malah penuh gesekan.


Pandangan Para Ahli Tentang Dinamika Kelompok

Dalam materi pertemuan 2, Ibu Sere juga mengutip beberapa ahli:

Soerjono Soekanto
menyebut dinamika sosial sebagai “perubahan sosial dalam masyarakat yang mengalami berbagai bentuk permasalahan, baik dilakukan perorangan maupun kelompok ”Artinya, perubahan itu wajar bahkan jadi tanda kelompok masih “hidup.”

Slamet Sentosa
menekankan bahwa dinamika kelompok adalah hubungan yang “terjalin antar kelompok sosial dalam lingkungan masyarakat secara teratur dan berhubungan dengan psikologis yang jelas”Jadi bukan cuma soal kerja sama fisik, tapi juga soal ikatan emosional dan psikologis antaranggota.

Nah, di kantor, hal ini bisa berarti bukan cuma soal siapa yang paling rajin, tapi siapa yang paling bisa menjaga suasana kerja tetap positif.


Dinamika dalam Dunia Kerja: Tim yang Sehat Itu Bergerak

Dalam konteks hubungan industrial, dinamika kelompok bisa jadi cermin kesehatan organisasi.
Kalau komunikasi berjalan lancar, kepercayaan tumbuh, dan peran tiap anggota jelas, maka tim bisa berkembang secara alami.
Tapi kalau suasana kerja tegang, tidak ada ruang untuk bicara jujur, atau atasan terlalu dominan, maka dinamika kelompok bisa terganggu.

Contoh sederhana:

Tim marketing di satu perusahaan startup bisa berubah cepat karena target penjualan yang menekan. Kalau pemimpin tim mampu membangun kepercayaan dan mendengarkan anggota, perubahan itu justru bikin tim adaptif. Tapi kalau gaya kepemimpinan kaku, anggota bisa kehilangan motivasi.


Gimana Cara Menjaga Dinamika Kelompok Tetap Sehat?

  1. Komunikasi dua arah. Jangan cuma dengar, tapi juga mau didengar.

  2. Beri ruang untuk berbeda pendapat. Perbedaan justru bisa memperkaya ide.

  3. Kenali emosi anggota tim. Kadang masalah bukan di pekerjaan, tapi di rasa lelah atau tidak dihargai.

  4. Evaluasi rutin. Sekali-sekali tim perlu refleksi: apa yang berjalan baik, apa yang perlu diperbaiki.

Ingat, kelompok yang baik bukan yang selalu setuju, tapi yang mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan arah.


Penutup

Dinamika kelompok adalah detak jantungnya kerja tim.
Seperti yang ditulis Maida, kelompok akan terus berubah  dan itu normal

Tugas kita sebagai bagian dari tim adalah menjaga agar perubahan itu tetap bergerak ke arah positif.

Karena pada akhirnya, tim yang hebat bukan yang nggak pernah punya masalah, tapi yang bisa tumbuh karena masalah itu sendiri 

Sumber:

Serepina T. Iur Maida, “Faktor Hubungan dengan Manusia dan Dinamikanya” (Materi pertemuan 2 Hubungan Industrial, Universitas Mpu Tantular)

Magang 1 : Meneropong Dunia Kerja Modern Lewat Strategi 360 Feedback




Halo teman-teman! 👋


Pernah nggak sih kamu ngerasa kerja udah maksimal banget, tapi pas penilaian kinerja hasilnya nggak sesuai ekspektasi? atau sebaliknya kamu ngerasa biasa aja, tapi ternyata atasan dan rekan kerja menilai kamu tinggi banget?

Nah, ternyata hal-hal kayak gitu sering terjadi karena sistem penilaian di banyak tempat masih satu arah dari atasan ke bawahan. Padahal dunia kerja sekarang udah jauh lebih kompleks dan kolaboratif.
Makanya muncul sistem baru yang disebut 360 feedback. Yuk, bahas bareng!

Secara sederhana, 360 feedback adalah sistem penilaian kinerja di mana seseorang dinilai dari berbagai arah bukan cuma oleh atasan, tapi juga oleh rekan kerja, bawahan, dan bahkan dirinya sendiri.

Tujuannya? Supaya hasil penilaian lebih objektif, akurat, dan adil.

Kalau penilaian tradisional itu seperti nonton dari satu kamera, maka 360° feedback ibarat pakai CCTV dari segala sudut. Hasilnya lebih lengkap, lebih jujur, dan bisa jadi bahan refleksi diri buat setiap karyawan.


Kenapa Dunia Kerja Butuh Pendekatan Ini?

Dunia kerja sekarang nggak lagi kaku kayak dulu.
Ada startup dengan struktur datar, perusahaan dengan sistem remote, bahkan tim lintas negara.
Dalam situasi itu, kinerja nggak bisa diukur cuma dari “atas ke bawah.”
Yang dibutuhkan adalah kolaborasi, komunikasi, dan kesadaran diri.

Beberapa manfaat 360° feedback antara lain:

  1. Lebih Objektif: Penilaian datang dari berbagai arah, jadi lebih seimbang.

  2. Meningkatkan Komunikasi: Bikin karyawan lebih terbuka terhadap kritik dan apresiasi.

  3. Mendorong Pengembangan Diri: Hasilnya bisa dipakai untuk pelatihan dan coaching.

  4. Membangun Budaya Kerja yang Sehat: Semua orang belajar memberi dan menerima umpan balik dengan bijak.

Berdasarkan Penelitian, Metode Ini Efektif Loh!

Salah satu penelitian di Indonesia yang menarik datang dari Hotel Amarthahills (Prosiding Universitas Wijaya Putra, 2022).
Dalam studi itu, perusahaan menerapkan 360 feedback untuk menilai kinerja pegawai di berbagai divisi.

Hasilnya?
Rata-rata karyawan menilai dirinya lebih tinggi dibandingkan penilaian dari rekan kerja atau atasan.
Artinya, banyak pekerja yang merasa sudah optimal, padahal persepsi orang lain berbeda.
Nah, gap seperti ini justru berharga banget buat pengembangan diri.
Dari situ perusahaan bisa tahu:

  • siapa yang butuh pelatihan tambahan,

  • siapa yang bisa dijadikan mentor,

  • dan bagian mana dari sistem kerja yang perlu diperbaiki.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa penerapan 360 feedback meningkatkan kesadaran diri, tanggung jawab, dan kualitas komunikasi antarpegawai.

Tantangan Saat Diterapkan

Tentu nggak semua langsung mulus.
Beberapa kendala yang sering muncul antara lain:

  • Karyawan takut memberi penilaian jujur ke atasan,

  • Ada yang belum siap menerima kritik,

  • atau malah bingung bagaimana menilai rekan kerja secara adil.

Makanya, sebelum menerapkan sistem ini, organisasi harus membangun budaya feedback yang sehat, misalnya lewat pelatihan komunikasi dan etika kerja.


Dari Kantor ke Startup: Semua Bisa Terapkan

360 feedback bukan cuma buat hotel atau perusahaan besar aja.
Sekarang banyak startup, lembaga pendidikan, bahkan instansi pemerintahan mulai menerapkannya juga.

Di era digital, di mana kerja tim lintas divisi makin umum, sistem ini membantu organisasi untuk:

  • mengenali potensi individu,

  • membangun tim yang solid,

  • dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih manusiawi.

Penutup: Feedback Bukan Kritik, Tapi Cermin Diri

Pada akhirnya, 360 feedback bukan sekadar alat penilaian, tapi juga alat refleksi.
Lewat sistem ini, kita bisa belajar melihat diri sendiri dari perspektif orang lain — dan itu langkah pertama menuju perbaikan yang nyata.

Jadi, kalau di tempat kerjamu nanti ada program 360 feedback, jangan takut duluan ya.
Anggap aja itu cara perusahaan bilang,
“kami percaya kamu bisa lebih baik lagi.”

Sumber:

  • Perencanaan Penilaian Kinerja Karyawan dengan Metode 360 Degree Feedback dalam Meningkatkan Mutu Pelayanan Hotel Amarthahills. Prosiding Universitas Wijaya Putra, 2022.
    https://doi.org/10.38156/gesi.v10i1.269

Wednesday, 24 September 2025

Hubungan Industrial 2 : Kompleksnya Dunia Kerja Zaman Now

 


Konsep dan Teori Hubungan Industrial dan human capital

Halo teman-teman! 👋
Pernah nggak kepikiran kalau dunia kerja sekarang udah beda banget sama zaman dulu? Kalau dulu hubungan kerja itu simpel: ada bos, ada pekerja, terus pemerintah jadi wasit. Nah, sekarang semuanya makin kompleks akibat teknologi digital dan munculnya yang namanya gig economy alias kerja serba fleksibel.

Di sinilah dua konsep penting muncul: hubungan industrial dan human capital. Yuk kita bahas santai bareng-bareng.

Hubungan Industrial Itu Apa Sih?

Secara teori, hubungan industrial itu sistem yang melibatkan tiga aktor utama: pekerja, pengusaha, dan pemerintah. Tujuannya biar tercipta kondisi kerja yang adil dan harmonis (Afrita, 2015).
Tapi, masuk era digital, model ini ditantang habis-habisan. Contohnya aplikasi ojol kayak Gojek dan Grab. Driver disebut “mitra”, bukan karyawan tetap. Hasilnya? Lebih fleksibel sih, tapi perlindungan sosialnya jadi minim (Rahayu, 2019).

Human Capital: Modal Bukan Sekadar Tenaga

Kalau hubungan industrial bicara struktur, human capital itu bicara manusianya. Intinya, pekerja bukan sekadar “alat produksi”, tapi aset berharga berupa pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman.
Tanpa human capital yang sehat dan berkembang, perusahaan bisa kehilangan daya saing. Bayangin kalau semua pekerja berbakat cabut karena nggak dihargai, perusahaan bisa ambyar, kan?

Tantangan Era Digital

Gig economy & freelancer
jumlah pekerja informal di Indonesia Februari 2025 mencapai 59,40% atau sekitar 86,58 juta orang! (DW Indonesia, 2025).
Perlindungan sosial
dari 58,8 juta peserta BPJS Ketenagakerjaan, cuma 8,6 juta yang pekerja informal. Artinya masih banyak yang belum terlindungi (Antara News, 2024).
Konflik tarif & transparansi driver ojol sering protes soal tarif dan algoritma order (Wijayanto, 2023).


Solusi Ala Hubungan Industrial

Gimana biar hubungan industrial tetap jalan dan human capital tetap terjaga?

  1. Dialog sosial : pemerintah, pengusaha, dan pekerja harus sering duduk bareng.

  2. Perlindungan sosial : pemerintah udah wacanakan konsep ini buat pekerja gig (Kemnaker, 2024), namun faktanya masih jauh dari realisasi.

  3. Pengembangan skill : pekerja perlu pelatihan biar nggak stuck. carerr development itu penting banget sebenarnya.

  4. Negosiasi win–win solution : konflik nggak bisa dihindari, tapi bisa diselesaikan dengan adil (Jumadi, 2021).


Penutup

Era digital bikin hubungan industrial nggak bisa lagi kaku kayak dulu. Fleksibilitas boleh, tapi jangan lupa perlindungan. Karena ujung-ujungnya, human capital adalah aset terbesar yang harus dijaga.

Jadi, kalau ada yang bilang pekerja itu cuma “biaya,” kasih tau: mereka adalah investasi.
tapi sayangnya berdasarkan pengalaman penulis, pelatihan karyawan atau SDA itu hanya membebani cost perusahaan 



Sumber :

  • Afrita (2015), Hukum Ketenagakerjaan dan Penyelesaian Sengketa Hubungan Industrial di Indonesia

  • Rahayu (2019), Hukum Ketenagakerjaan

  • DW Indonesia (2025), Jumlah Penganggur Naik, Pekerjaan Informal Meningkat

  • Antara News (2024), Ada Ekonomi Gig, BPJS Ketenagakerjaan Terus Sasar Pekerja Informal

  • Wijayanto (2023), Negosiasi dan Manajemen Konflik pada Mitra Driver Gojek

  • Jumadi (2021), Prinsip dan Strategi Negosiasi

  • Kemnaker (2024), Rencana Strategis Perlindungan Pekerja Gig Economy

Tuesday, 23 September 2025

Hubungan Industrial 1 : Masa Depan Hubungan Industrial di Era Digital

 


Masa Depan Hubungan Industrial di Era Digital

Halo teman-teman pembaca! 👋
Pernah nggak sih kalian berpikir bagaimana teknologi digital mengubah cara kita bekerja? Di era sekarang, hampir semua aspek kehidupan termasuk dunia kerja ikut berubah. Yuk, kita bahas bersama soal masa depan hubungan industrial di era digital!

Perubahan Pola Kerja di Era Digital

Dalam satu dekade terakhir, teknologi digital telah mengubah pola hubungan kerja antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah (Afrita, 2015). Industri yang sebelumnya berjalan dengan sistem konvensional kini beradaptasi dengan platform digital, di mana proses rekrutmen, pengupahan, dan pengawasan bisa dilakukan secara daring.

Fenomena gig economy (ekonomi berbasis kerja lepas) menjadi tanda perubahan besar. Layanan seperti Gojek, Grab, dan ShopeeFood menunjukkan bagaimana teknologi mempermudah pekerjaan fleksibel, namun juga menimbulkan tantangan baru: perlindungan sosial, status hukum, dan kepastian hak pekerja (Amiq dkk., 2019; Rahayu, 2019).

Landasan Hubungan Industrial

Secara teori, hubungan industrial melibatkan tiga aktor utama: pekerja, pengusaha, dan pemerintah, dengan tujuan menciptakan kondisi kerja yang harmonis, adil, dan produktif (Afrita, 2015). Model tripartit di Indonesia memungkinkan dialog antara ketiganya, tetapi hadirnya teknologi digital memicu perubahan karena interaksi kerja kini bisa dilakukan tanpa tatap muka (Amiq dkk., 2019; Lai & Lin, 2017).

Transformasi Model Hubungan Kerja

Perubahan paling nyata terlihat pada pergeseran dari kontrak jangka panjang ke kerja berbasis proyek atau kemitraan (Mustapa, 2018). Contohnya, driver ojek online bukan lagi karyawan tetap, melainkan mitra usaha. Fleksibilitas ini memberi kebebasan waktu dan penghasilan berbasis kinerja, tapi mengurangi perlindungan hukum seperti jaminan kesehatan atau pesangon (Rahayu, 2019).

Penelitian terbaru menunjukkan model platform bisa meningkatkan pendapatan, tapi risiko ketidakpastian pendapatan dan minimnya jaminan sosial tetap ada (Karmanis & Karjono, 2020).

Gig Economy dan Freelancer

Di Indonesia, sektor informal dan pekerja gig meningkat pesat. Data BPS Februari 2025 mencatat 59,40% angkatan kerja atau 86,58 juta orang berada di sektor informal (DW Indonesia, 2025), tetapi peserta BPJS untuk pekerja bukan penerima upah hanya 8,6 juta (Antara News, 2024).

Fenomena ini diperkuat oleh perpindahan tenaga kerja formal ke pekerjaan lepas karena tekanan ekonomi pascapandemi, seperti menjadi driver, kurir, atau kreator digital (Kompas, 2024; Jumadi, 2021). Penelitian Rahmawati (2022) dan Wijayanto (2023) menyoroti ketidakpastian hak, konflik tarif, dan transparansi algoritma sebagai tantangan nyata bagi pekerja platform.

Peran Pemerintah

Pemerintah perlu memperbarui regulasi agar selaras dengan era digital. Undang-Undang Cipta Kerja mencoba memberi fleksibilitas, tetapi status hukum pekerja platform masih ambigu (Afrita, 2015; Rahayu, 2019). Kebijakan yang efektif harus melibatkan dialog sosial antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan perlindungan sosial (Karmanis & Karjono, 2020).

Belajar dari Negara Lain

Beberapa negara sudah lebih dulu mengadaptasi kebijakan untuk pekerja digital. Di Singapura, Platform Worker Protection Framework memberi jaminan kesehatan dan kompensasi kecelakaan tanpa mengubah status mitra (ResearchGate, 2023). Sedangkan Korea Selatan memberikan akses jaminan sosial bagi pekerja lepas digital (Lai & Lin, 2017). Indonesia bisa belajar dari praktik ini dengan menyesuaikan regulasi sesuai kebutuhan lokal (Afrita, 2015).

Kesimpulan

Era digital membawa peluang sekaligus tantangan: fleksibilitas kerja meningkat, tapi kepastian hukum dan perlindungan sosial masih menjadi isu. Pemerintah, platform, dan pekerja perlu bekerja sama untuk menciptakan hubungan industrial yang harmonis dan inklusif. Rekomendasinya meliputi:

  1. Memperjelas status hukum pekerja platform.

  2. Memperluas jaminan sosial bagi pekerja lepas.

  3. Mendorong dialog sosial tripartit.

  4. Mengembangkan mekanisme penyelesaian sengketa yang cepat dan efektif.

Dengan langkah ini, Indonesia bisa memaksimalkan potensi ekonomi digital tanpa mengorbankan kesejahteraan pekerja.

Thursday, 10 July 2025

Komunikasi Organisasi 10 : Kampus Bukan Cuma Kuliah: Ada Dosen, Serikat, dan Cerita!

Halo teman-teman pembelajar komunikasi organisasi,

Apa iya kampus itu cuma tempat belajar dan ujian? Padahal di balik aktivitas akademik, ada banyak sosok dan lembaga yang memastikan kampus berjalan dengan baik, salah satunya adalah Serikat Pekerja Dosen dan Karyawan (SPDK).

Apa sih SPDK itu?

SPDK adalah wadah bagi dosen dan karyawan kampus untuk menyuarakan aspirasi, meningkatkan kesejahteraan, serta menjaga harmoni dalam organisasi. Dengan kata lain, SPDK bukan cuma urusan serikat pekerja seperti di pabrik, tapi juga bagian penting dari ekosistem pendidikan tinggi.

Menariknya, UMT (Universitas Mpu Tantular) melalui SPDK akan mengadakan webinar dengan tema:

Tema: Ngobrolin Sinergi: Mahasiswa & SPDK, Kompak Wujudkan UMT yang Keren!
Judul: Kampus Bukan Cuma Kuliah: Ada Dosen, Serikat, dan Cerita!
Hari/Tanggal: Sabtu, 26 Juli 2025
Waktu: 10:00 – 12:00 WIB
Tempat: Zoom Meeting (link akan dibagikan menyusul)

Apa goal dari acara ini?

✅ Meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang peran strategis SPDK dalam mendukung kesejahteraan dan harmoni kampus.
✅ Menguatkan sinergi antara mahasiswa, dosen, staff, dan SPDK sebagai satu ekosistem pendidikan tinggi.
✅ Mengaplikasikan teori komunikasi organisasi secara nyata melalui studi kasus di lingkungan kampus.
✅ Menginspirasi mahasiswa untuk menghargai dan mendukung hubungan industrial yang sehat di kampus.

Kenapa tema ini penting?

Banyak mahasiswa belum tahu bahwa hubungan industrial di kampus memengaruhi kualitas pembelajaran. Menurut Teori Hubungan Sosial Elton Mayo (dalam Robbins & Judge, 2017), karyawan dan dosen bukan sekadar mesin akademik, melainkan manusia yang perlu dihargai, didengar, dan diajak berkolaborasi.

Teori ini sejalan dengan materi Strategi Kepemimpinan dalam Organisasi yang disampaikan oleh Ibu Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom pada pertemuan ke-13 “Keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh efisiensi operasional, tetapi juga oleh kualitas hubungan antar individu di dalam organisasi.” (Maida, 2024)

Apa saja yang akan dibahas di webinar ini?

🔹 Peran SPDK dalam meningkatkan kesejahteraan dosen dan karyawan
🔹 Sinergi antara SPDK dan mahasiswa untuk mewujudkan kampus yang nyaman dan inklusif
🔹 Cerita inspiratif alumni dan dosen tentang pentingnya hubungan sosial di organisasi kampus
🔹 Strategi komunikasi efektif dalam menjaga harmoni organisasi

Kenapa kamu wajib ikut?

✅ Kamu akan tahu bahwa kampus bukan cuma tentang kuliah dan ujian.
✅ Ada dosen, staff, dan serikat pekerja yang mendukung perjalanan akademikmu.
✅ Belajar ilmu komunikasi organisasi secara nyata, bukan hanya teori di kelas.
✅ Acaranya gratis dan dapat sertifikat juga!

Catat tanggalnya ya!
🗓️ Sabtu, 26 Juli 2025
🕙 10:00 – 12:00 WIB
💻 Zoom Meeting

Ssst… jangan lupa daftar ya biar nggak kehabisan seat-nya loh!

📲 CP: Alfitto / 085333660270

Referensi:
Maida, S. T. (2024). Strategi Kepemimpinan dalam Organisasi, Materi presentasi PowerPoint, Pertemuan 13. Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Mpu Tantular.

Thursday, 26 June 2025

Komunikasi Organisasi 9 : Teori Hubungan Sosial - Komunikasi Nggak Cuma Soal Kata, Tapi Juga Rasa!






Halo teman-teman pembelajar komunikasi organisasi

Pernah nggak kalian ada di situasi kerja di mana atasan bilang "gue nggak mau tahu, yang penting selesai!" tapi justru malah pengen ngilang dari grup WA

Ternyata, banyak konflik dalam organisasi bukan soal apa yang dikatakan, tapi bagaimana caranya dikomunikasikan. Dan inilah kenapa Teori Hubungan Sosial dari Elton Mayo (dalam Robbins & Judge, 2017) masih relevan banget, bahkan di era digital kayak sekarang!

ELton Mayo mengemukakan satu hal penting bahwa karyawan itu bukan mesin. Mereka butuh dihargai, didengar, dan merasa jadi bagian dari tim.

Nah, teori ini kemudian dikenal sebagai Human Relations Theory, yang jadi pondasi penting dalam komunikasi organisasi. Intinya, hubungan sosial itu kunci performa. Bukan cuma SOP dan KPI yang bikin produktivitas naik tapi juga hubungan antar manusia.

Menariknya, hal ini juga sejalan banget dengan materi dari Pertemuan 13 “Strategi Kepemimpinan dalam Organisasi yang diampu oleh Ibu Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom. Dan beliau menjelaskan bahwa Keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh efisiensi operasional, tetapi juga oleh kualitas hubungan antar individu di dalam organisasi (Maida, S. T. 2024).

Konflik Komunikasi: Kasus Nyata, Bukan Drama!

Penulis sendiri pernah mengalami ini saat masa percobaan kerja di perusahaan swasta. Dapat tugas besar yaitu mencari 5 lokasi pelatihan di JABODETABEK dengan kapasitas 750 orang. Tapi gaya komunikasi atasan yang sangat dominan dengan kalimatnya "gue nggak mau tahu, pokoknya selesai!" bikin tekanan makin tinggi karena tidak ada ruang diskusi.

Apa yang terjadi?
Meskipun penulis berhasil menyelesaikan tugas tapi 
muncul perasaan kecewa karena solusi lebih efisien (pakai vendor) baru disebut di akhir oleh head operasional. hal ini terjadi berulang sehingga membuat tim jadi lebih milih kerja sendiri-sendiri, tanpa melibatkan atasan dan pada akhirnya membuat Hubungan kerja jadi dingin, minim kepercayaan.

Menurut Robbins & Judge (2017) Kepemimpinan yang terlalu mengandalkan tekanan tanpa membangun hubungan dapat menurunkan moral kerja dan menghambat kreativitas tim.

Dan hal ini pun dijelaskan kembali pada sesi 13 perkuliahan oleh Ibu Sere dalam mata kuliah Komunikasi Organisasi bahwa pemimpin yang mengedepankan empati, komunikasi terbuka, serta penghargaan terhadap setiap individu dalam organisasi cenderung menciptakan suasana kerja yang kondusif dan inovatif. (Maida, S. T. 2024)

Tapi sayangnya, itu nggak terjadi dalam kasus ini. Gaya komunikasi satu arah malah bikin tim bergerak sendiri, bikin “aliansi diam-diam”, dan secara perlahan menyingkirkan peran atasan dari proses tim.


Kenapa Teori Mayo Bisa Jadi Solusi?

  1. Manusia Butuh Dihargai, Bukan Dibentak.
    Komunikasi dua arah merupakan komunikasi sehat. Kalau bawahan cuma disuruh tapi nggak diajak bicara, jangan heran kalau mereka jadi pasif atau bahkan silent quitting.

  2. Perhatian Sosial Meningkatkan Loyalitas.
    Kadang bukan bonus yang bikin orang betah kerja, tapi perasaan dihargai dan didengarkan.

  3. Bukan Cuma Instruksi, Tapi Interaksi.
    Atasan yang mau mendengar bisa menghindari banyak miskomunikasi, apalagi di era chat & email yang minim ekspresi.


Strategi Biar Nggak Makin Toxic

Latih Komunikasi Asertif
Biar atasan bisa ngomong tegas tanpa terdengar marah, dan bawahan bisa menyampaikan pendapat tanpa takut dihakimi.

Etika Komunikasi Digital
Gunakan kata-kata yang tenang di email atau chat. Jangan asal capslock atau spam tanda seru. apalagi font dengan warna merah di dalam grup terbuka (Contoh: “URGENT!!!” bisa bikin jantung copot duluan)

Gunakan 360 Feedback
Biar komunikasi bukan cuma top down. Bawahan juga punya hak untuk menilai dan memberi saran.

Mediasi HR
Kalau konflik mulai mengganggu tim, jangan ragu minta bantuan pihak ketiga yang netral.


Jadi, Komunikasi Itu Soal Apa?

Teori Mayo mengajarkan kita bahwa komunikasi dalam organisasi bukan sekadar alat penyampai pesan, tapi jembatan hubungan sosial. Kalau jembatannya rapuh, ya koneksinya bakal putus.

Dan dalam kasus tadi, bisa kita lihat:

  • Gaya atasan yang terlalu kaku membuat bikin relasi jadi formal & hambar.

  • Kurang ruang untuk diskusi membuat bikin bawahan ambil jalan sendiri.

  • Komunikasi satu arah dapat mengakibatkan konflik yang susah dideteksi.


Kesimpulan

Kalau mau organisasi lebih produktif, bukan cuma sistem kerja yang perlu diubah, tapi juga cara berkomunikasi antar manusianya.
Ingat, kadang masalah bukan di apa yang dikatakan, tapi di bagaimana cara mengatakannya.

Mulailah dari hal kecil:

  • Dengarkan lebih banyak.

  • Bicara dengan empati.

  • Gunakan komunikasi dua arah.

Karena organisasi hebat bukan cuma soal target tercapai, tapi soal manusia yang tumbuh bersama.

Referensi:

1. Mayo dalam Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2017). Organizational Behavior (17th ed.). Pearson Education.
2. Maida, S. T. (2024). Strategi Kepemimpinan dalam Organisasi Materi presentasi PowerPoint, Pertemuan 13. Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Mpu Tantular.


Tuesday, 3 June 2025

Komunikasi Organisasi 8 : Perubahan Bikin Emosi? Kenalan Dulu Sama Model Kübler-Ross!




Halo teman-teman!

Pernah nggak sih kamu ngerasa campur aduk waktu dikasih kabar soal perubahan di kantor?
Baru denger tim mau dirombak aja udah bikin kepala panas, hati galau, dan pikiran bingung. Tenang, kamu nggak sendiri emosi campur aduk itu wajar banget.

Dan serunya, ada satu model psikologis yang bisa bantu kamu paham kenapa kita bereaksi seperti itu saat perubahan datang. Namanya: Model Kübler-Ross.


Siapa sih Elisabeth Kübler-Ross?

Elisabeth Kübler-Ross adalah psikiater asal Swiss-Amerika yang memperkenalkan Model Lima Tahap ini dalam bukunya "On Death and Dying" tahun 1969. Awalnya dipakai untuk memahami respon orang saat menghadapi kehilangan besar seperti kematian. Tapi sekarang, model ini juga sering dipakai dalam dunia kerja, organisasi, bahkan pengembangan diri  karena ternyata perubahan juga bisa terasa seperti kehilangan.

Nah, ini dia lima tahapnya! Coba cek, kamu pernah ngalamin yang mana?

1. Denial (Penolakan)
“Ah masa sih? Nggak mungkin segitunya deh.”

Tahap pertama ini bikin kita menyangkal kenyataan. Misalnya pas dengar sistem kerja bakal berubah total, reaksi spontan kita bisa jadi: “Ah ini cuma wacana.”
Tapi denial terlalu lama bisa bikin kita ketinggalan langkah.

2. Anger (Marah)
“Kenapa sih harus begini? Siapa sih yang bikin aturan ini?”

Mulai sadar bahwa perubahan itu nyata, kita pun mulai kesal. Bisa marah ke sistem, ke atasan, bahkan ke rekan kerja.
Fase ini penuh emosi, dan penting buat ditangani dengan komunikasi terbuka dan empati.

3. Bargaining (Tawar-menawar)
“Gimana kalau sistem lamanya masih dipakai aja setengah-setengah?”

Ini fase kompromi. Kita mulai mencari cara buat tetap nyaman sambil sedikit berubah. Tapi kadang ini cuma cara kita menunda penyesuaian sebenarnya.


4. Depression (Sedih atau Frustrasi)
“Kayaknya ini terlalu sulit. Gue nggak sanggup.”

Mulai sadar nggak ada jalan mundur, kita bisa merasa lelah, pesimis, atau kehilangan motivasi.
Fase ini butuh dukungan, bukan tuntutan.

5. Acceptance (Penerimaan)
“Oke, ini memang harus terjadi. Sekarang gue fokus adaptasi.”

Akhirnya kita menerima kenyataan dan mulai mencari solusi. Di fase ini, kita mulai berpikir lebih jernih dan bertindak secara konstruktif.


Kenapa Model Ini Masih Relevan?

Karena manusia tetap manusia.
Mau di tahun 1969 atau 2025, perubahan tetap memicu reaksi emosional. Dan dengan memahami tahapan ini, kita jadi lebih peka baik ke diri sendiri maupun orang lain dalam menghadapi masa transisi.

Model ini cocok banget dipakai oleh manajer, HR, atau siapa pun yang sedang memimpin tim melalui perubahan besar. Biar nggak sekadar “push perubahan,” tapi juga bisa dampingi emosi di baliknya.


Kesimpulan: Pahami Emosi, Biar Perubahan Nggak Bikin Burnout

Perubahan itu perlu, tapi nggak semua orang siap secara mental. Dengan memahami Model Kübler-Ross, kamu bisa lebih bijak merespons dan bantu orang lain buat move on lebih sehat.

Ingat, semua orang punya waktunya sendiri. Yang penting: jangan buru-buru, jangan maksa, dan tetap saling dukung.

Kalau kamu merasa tulisan ini relate banget sama kondisi tim kamu, boleh banget di-share buat bahan refleksi bareng!


Sumber:
Model ini diperkenalkan oleh Elisabeth Kübler-Ross dalam buku On Death and Dying (1969), dan kini digunakan secara luas untuk memahami dinamika perubahan, transisi emosional, dan manajemen perubahan di berbagai konteks.

Komunikasi Organisasi 7 : Yuk, Kenalan Sama Model Delapan Langkah John Kotter!




Halo teman-teman!

Pernah nggak sih kamu ngalamin perubahan di tempat kerja kayak pindah divisi, ganti sistem kerja, atau bahkan rebranding tapi rasanya timmu kayak nggak siap, bingung, atau malah nolak perubahan itu?

Tenang, kamu nggak sendiri. Banyak organisasi ngalamin hal yang sama. Dan kabar baiknya, ada satu model keren dari John Kotter yang bisa bantu kamu dan tim lebih siap dan kompak menghadapi perubahan: Model 8 Langkah Perubahan.

Siapa sih John Kotter?

John P. Kotter adalah seorang profesor di Harvard Business School dan salah satu pakar manajemen perubahan paling berpengaruh di dunia. Ia memperkenalkan Model 8 Langkah Perubahan ini dalam bukunya yang terkenal berjudul Leading Change pada tahun 1996.

Meskipun teorinya udah berusia lebih dari dua dekade, model ini masih sangat relevan sampai sekarang, apalagi di era digital dan dunia kerja yang serba cepat kayak sekarang. Kenapa? Karena inti dari perubahan tetap sama: menggerakkan orang untuk beradaptasi dan bertindak.

Nah, yuk kita bahas satu per satu langkahnya biar kamu nggak cuma jadi penonton perubahan, tapi juga jadi penggeraknya!

1. Bangun Rasa Mendesak

“Ayo, ini penting banget buat kita!”

Kalau nggak ada urgensi, orang bakal mikir: “Ngapain sih berubah?”
Makanya, tunjukin alasan kenapa perubahan ini penting. Bisa lewat data, cerita nyata, atau gambaran ancaman kalau tetap di zona nyaman. Intinya: buat semua merasa, “Kita harus mulai sekarang.”

2. Bentuk Tim Pendorong Perubahan

“Sendiri nggak cukup, ayo bentuk pasukan!”

Nggak bisa jalan sendiri, kamu butuh tim yang kredibel dan punya pengaruh. Pilih orang-orang dari berbagai divisi yang bisa jadi role model dan pendorong semangat buat lainnya.

3. Buat Visi dan Strategi Perubahan

“Tujuannya ke mana, sih?”

Perubahan itu kayak naik kapal: harus tahu pelabuhan akhirnya.
Jadi, bikin visi yang jelas, inspiratif, dan gampang diingat. Lalu, susun langkah-langkah strategis biar semua tahu harus ngapain.

4. Komunikasikan Visi

“Jangan cuma disimpan di slide presentasi!”

Visi dan strategi itu harus disebarluaskan, bukan disimpan di dokumen. Sampaikan lewat berbagai media, forum, bahkan obrolan santai. Dan yang penting: konsisten dan kontinyu.

5. Beri Wewenang dan Hilangkan Hambatan

“Biar tim bisa gerak bebas dan cepat.”

Sering kali, perubahan mandek karena terlalu banyak birokrasi atau atasan yang nggak mendukung.
Nah, tugas kamu adalah bantu menghapus hambatan itu. Kasih tim kepercayaan dan alat yang mereka butuhkan buat eksekusi.

6. Ciptakan Kemenangan Jangka Pendek

“Ayo rayakan keberhasilan kecil!”

Perubahan besar butuh waktu. Tapi kalau nunggu hasil akhir baru tepuk tangan, tim bisa lelah duluan.
Makanya, rayakan tiap pencapaian kecil. Itu bikin semangat tetap menyala.

7. Konsolidasikan Perubahan dan Terus Dorong Perbaikan

“Jangan berhenti di tengah jalan.”

Jangan cepat puas. Evaluasi terus, belajar dari yang udah dicapai, dan perbaiki bagian yang masih kurang.
Ingat: perubahan itu proses, bukan proyek semalam.

8. Jadikan Perubahan sebagai Budaya

“Biar jadi DNA organisasi.”

Kalau perubahan cuma dianggap proyek sementara, lama-lama bakal balik ke pola lama.
Jadi, tanamkan nilai-nilai baru itu ke budaya kerja: mulai dari cara rekrut orang, sistem penilaian, sampai gaya kepemimpinan.

Kesimpulan: Perubahan Butuh Strategi, Bukan Sekadar Semangat

Banyak orang pengen berubah, tapi nggak semua tahu bagaimana cara berubah.
Dengan 8 langkah dari John Kotter ini, kamu bisa bantu organisasi bukan cuma bertahan, tapi juga tumbuh di tengah tantangan.

Ingat: perubahan itu nggak selalu mudah, tapi bukan berarti mustahil. Dan model ini udah terbukti bekerja di berbagai organisasi dari perusahaan multinasional sampai startup rintisan.


Sumber:
Model ini dikembangkan oleh John P. Kotter dalam bukunya Leading Change (1996).
Untuk informasi lebih lanjut dan contoh implementasinya, kamu bisa cek buku aslinya atau artikel-artikel manajemen perubahan terpercaya.

Saturday, 31 May 2025

Tulisan Feature : Saat Madinah Mengajarkan Cara Merindu

 


Ada kota yang tidak hanya menyimpan sejarah, tapi juga menyentuh hati dengan keheningan dan kasih. Madinah kota cahaya, kota yang dipilih Rasulullah untuk menetap dan wafat.

Pada 21 Februari 2022, langkah pertama saya menginjak tanah itu terasa seperti menjejak antara dunia dan keabadian. Udara dingin menyambut pelan, seolah memberi pelukan hangat dari langit Madinah yang penuh berkah. Namun sebelum sampai ke sini, perjalanan saya telah dimulai dengan karantina satu hari pada 18 Februari, bagian dari protokol pandemi yang masih melingkupi dunia saat itu.

Tanggal 19 Februari pukul 18:00, saya lepas landas dengan Qatar Airways menuju tanah suci. Transit satu jam di Qatar terasa singkat, dan langit masih gelap saat saya tiba di Madinah pukul 04:00 dini hari, 20 Februari. Sesampainya di sana, kami langsung menjalani karantina tiga hari di hotel dengan sunyi dan menunggu penuh harap.

Namun, siapa sangka bahwa takdir Allah akan membukakan pintu-Nya lebih cepat dari yang saya duga...

Pada hari kedua karantina, tanggal 21 Februari 2022, saya sedang berselancar di Instagram dan melihat siaran langsung dari Almarhum Koh Steven, pendiri Mualaf Center Indonesia, yang ternyata juga sedang berada di Masjid Nabawi. Dalam siaran itu, saya menuliskan sebuah pertanyaan sederhana di kolom komentar: bagaimana cara masuk ke Masjid Nabawi di masa pandemi? Tak disangka, pertanyaan itu menjadi jalan pembuka karena beliau langsung meminta saya untuk mengirim pesan pribadi di Instagram. Tepat setelah siaran langsung beliau berakhir, tidak sampai lima menit, beliau datang menjemput saya di hotel.

Hari itu, saya melangkah masuk ke Masjid Nabawi untuk pertama kalinya. Tanpa hambatan, tanpa harus menunggu masa karantina usai. Di tengah atmosfer spiritual yang pekat, saya menunaikan shalat, sebuah pengalaman yang tak bisa saya lukiskan dengan kata-kata. Usai shalat, Koh Steven duduk bersama saya di dalam masjid dan mulai bercerita tentang sejarah Masjid Nabawi yang beliau ketahui.

Dengan penuh semangat dan cinta, beliau menunjuk sebuah arah lurus yang membentang dari kamar Rasulullah di rumah Siti Aisyah yang sekarang menjadi bagian dari area Rawdah menuju ke Gunung Uhud. Katanya, jalan itu adalah jalur lurus yang dahulu bisa saja dilalui Rasulullah bersama para sahabatnya ketika hendak menuju medan perang Uhud. Beliau berkata, “Bisa saja yang kita injak saat ini ada jejak-jejak kaki Nabi dan para sahabat.” Kalimat itu langsung membuat bulu kuduk saya berdiri. Seakan sejarah yang selama ini hanya saya baca, kini hidup kembali di hadapan mata.

Koh Steven juga menunjukkan lokasi-lokasi penting lainnya yang ada di sekitar masjid. “Itu dulu rumah Abu Bakar,” katanya sambil menunjuk menara Masjid Abu Bakar. Lalu ia menunjuk ke sisi lain, “Di sana rumah Umar bin Khattab, dan di sana rumah Ali bin Abi Thalib.” Semuanya telah berubah, dialih fungsikan menjadi masjid di sekitar Masjid Nabawi yang hanya dibuka saat waktu shalat, namun jejak sejarahnya tetap hidup. Saya merasa seperti sedang berjalan bersama para sahabat Nabi, merasakan kedekatan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Setelah momen penuh makna itu, Koh Steven memberikan saya hadiah: sebotol parfum yang beraroma Hajar Aswad dan air zamzam, untuk dibawa pulang ke hotel. Bukan sekadar benda, tapi kenangan yang terus menguar harum hingga hari ini.

Berkat informasi dan dorongan dari beliau, siangnya saya membawa keluarga saya ikut shalat ke Masjid Nabawi. Ternyata, pemerintah Saudi benar-benar memudahkan bagi siapa pun yang ingin beribadah. Prosedur tidak serumit yang dibayangkan, terutama bagi mereka yang tulus datang untuk menyambut panggilan ilahi.

Namun, perjalanan tak selalu mulus. Ada kesalahan dari pihak travel mengenai tanggal masuk ke Raudhah. Seluruh jamaah akhirnya tidak bisa mengunjungi taman surga itu. Tapi, sekali lagi, qadarullah berlaku. Saya mendapat kesempatan langka masuk ke Raudhah di malam hari, saat suhu Madinah mencapai 16 derajat. Udara dingin membalut tubuh, namun hati terasa hangat dan air mata berurai tak tertahan. Di sana, saya bersujud, menangis dalam doa, merasakan keheningan yang hanya diisi oleh lantunan Qur'an, panggilan adzan, dan kicauan burung.

Hari-hari di Madinah berjalan tenang, damai, dan suci. Tidak ada hiruk pikuk manusia, tidak ada deru kendaraan. Yang terdengar hanya nyanyian langit dan bisikan hati yang penuh harap. Saya mulai memahami mengapa Madinah begitu dicintai, mengapa Rasulullah memilih kota ini sebagai tempat hijrah dan wafatnya. Tepat seperti doa Rasulullah “Ya Allah, jadikanlah kami cinta kepada Madinah, sebagaimana Engkau membuat kami mencintai Mekah, atau bahkan lebih besar lagi.”

Hingga tiba waktu perpisahan. Saya berdiri di depan Kubah Hijau, berbicara dengan Rasulullah dalam hati, meluapkan perasaan yang sulit diungkapkan. Ketika saya berbalik untuk pergi, dada saya seperti ditimpa rindu yang baru. Rasanya seperti meninggalkan kekasih yang sedang menatap kepergian kita dengan penuh khawatir. Seperti ada suara yang bertanya pada diri ini: “Apakah kau akan lupa padaku nanti? Apakah kau akan ingat pesan-pesanku?”

Air mata pun jatuh tanpa diminta. Saya teringat Bilal bin Rabah, muazin kesayangan Rasulullah, yang tak sanggup lagi mengumandangkan adzan setelah Rasulullah wafat. Jika saya yang baru sebentar menginjak tanah ini saja begitu pilu, bagaimana dengan Bilal yang hidup bersama dengan Rasulullah?

Saya tahu, saya meninggalkan Madinah untuk menuju Makkah, kota yang dibebaskan oleh Rasulullah. Tapi berat hati ini meninggalkan Madinah, kota cinta, kota cahaya, kota tempat Rasulullah beristirahat.

Dan hingga hari ini, di antara riuh kehidupan dunia, saya masih sering mendengar gema itu, lantunan Qur'an dari Masjid Nabawi, dan pertanyaan lembut yang terus bergema di hati: “Apakah kau akan lupa padaku nanti?”


Magang 8 : Ketika Pengalaman Bertemu Ruang Belajar

  Halo Genks!  Jujur saja, saya tidak pernah membayangkan akan menulis blog tentang magang di usia yang sudah kepala 3 inih wkwkwk . Di usi...