Halo Genks!
Jujur saja, saya tidak pernah membayangkan akan menulis blog tentang magang di usia yang sudah kepala 3 inih wkwkwk . Di usia ini, saya sudah cukup lama berada di dunia kerja, memimpin pelatihan, menyusun kurikulum, dan mengelola pembelajaran dalam skala besar. Tapi hidup memang punya cara unik untuk membawa kita kembali ke ruang belajar dengan versi yang lebih dewasa.
Tulisan ini saya buat sebagai catatan terakhir, karena masa magang saya resmi selesai.
Bukan Magang Pertama, Tapi Pengalaman yang Berbeda
Berbeda dengan kebanyakan mahasiswa, saya menjalani Praktik Kerja Lapangan bukan sebagai seseorang yang baru mengenal dunia profesional. Sebelum magang ini, saya telah lebih dari satu dekade berkecimpung di bidang learning & development, pelatihan, dan pengembangan manusia baik secara offline maupun digital.
Namun, posisi saya kali ini unik. Saya kembali duduk sebagai mahasiswa, sekaligus menjalani peran Learning Designer dalam konteks akademik. Di titik ini, magang bukan lagi soal “belajar bekerja”, tetapi tentang menyelaraskan pengalaman panjang dengan kerangka ilmiah komunikasi digital.
Ketika Pengalaman Diuji oleh Teori
Selama magang, saya terlibat dalam pengembangan materi pembelajaran digital, penyusunan script pelatihan, product knowledge, hingga service excellent. Aktivitas ini sebenarnya bukan hal baru bagi saya. Namun yang berbeda adalah cara saya memaknainya.
Jika sebelumnya saya bekerja dengan pendekatan praktis dan target oriented, kali ini saya diajak untuk berhenti sejenak dan bertanya:
-
Mengapa pesan ini disusun dengan cara tertentu?
-
Bagaimana teori komunikasi menjelaskan efektivitas konten ini?
-
Di mana posisi teknologi sebagai medium, bukan sekadar alat?
Magang ini memaksa saya melihat ulang praktik yang selama ini saya jalani, lalu mengaitkannya dengan teori komunikasi, komunikasi persuasif, dan komunikasi organisasi secara lebih sistematis
Tantangan Bukan Soal Teknis, Tapi Soal Konteks
Menariknya, tantangan terbesar selama magang bukan pada aspek teknis atau kemampuan kerja melainkan pada konteks organisasi dan budaya belajar. Rendahnya kebiasaan self learning, perbedaan latar belakang karyawan, serta hierarki komunikasi menjadi isu nyata yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pengalaman.
Di sinilah saya kembali belajar sebagai “mahasiswa”. Saya mencoba menempatkan diri bukan sebagai orang yang paling tahu, tetapi sebagai pengamat dan perancang pesan. Pendekatan persuasif, storytelling, dan edutainment menjadi jembatan antara teori dan realitas lapangan.
Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa pengalaman kerja yang panjang tidak otomatis membuat kita selalu benar. Dunia terus berubah, dan cara belajar manusia juga ikut berubah.
Magang sebagai Ruang Refleksi
Bagi saya, magang ini bukan penurunan peran, melainkan ruang refleksi. Kesempatan untuk menguji ulang apa yang selama ini saya yakini benar, lalu memperkaya praktik tersebut dengan perspektif akademik.
Di usia 36 tahun, saya justru semakin sadar bahwa belajar tidak mengenal usia. Dunia kerja dan dunia akademik bukan dua kutub yang bertentangan, melainkan saling melengkapi. Pengalaman memberi kedalaman, teori memberi kerangka berpikir.
Penutup: Bukan Akhir, Tapi Penegasan Arah
Hari ini, magang itu selesai. Tapi proses belajarnya tidak. Saya menutup perjalanan ini bukan sebagai “anak magang”, melainkan sebagai profesional yang kembali ke ruang kelas dengan kesadaran baru.
Bahwa belajar adalah proses seumur hidup.
Bahwa pengalaman perlu dipertanyakan, bukan hanya dibanggakan.
Dan bahwa komunikasi pada akhirnya selalu tentang manusia.
Tulisan ini menjadi penutup dari perjalanan magang saya sebagai Learning Designer. Sebuah jeda singkat untuk menata ulang arah, sebelum melangkah kembali ke dunia profesional dengan sudut pandang yang lebih utuh.









