Saturday, 10 January 2026

Magang 8 : Ketika Pengalaman Bertemu Ruang Belajar


 


Halo Genks! 

Jujur saja, saya tidak pernah membayangkan akan menulis blog tentang magang di usia yang sudah kepala 3 inih wkwkwk . Di usia ini, saya sudah cukup lama berada di dunia kerja, memimpin pelatihan, menyusun kurikulum, dan mengelola pembelajaran dalam skala besar. Tapi hidup memang punya cara unik untuk membawa kita kembali ke ruang belajar dengan versi yang lebih dewasa.

Tulisan ini saya buat sebagai catatan terakhir, karena masa magang saya resmi selesai.

Bukan Magang Pertama, Tapi Pengalaman yang Berbeda

Berbeda dengan kebanyakan mahasiswa, saya menjalani Praktik Kerja Lapangan bukan sebagai seseorang yang baru mengenal dunia profesional. Sebelum magang ini, saya telah lebih dari satu dekade berkecimpung di bidang learning & development, pelatihan, dan pengembangan manusia baik secara offline maupun digital.

Namun, posisi saya kali ini unik. Saya kembali duduk sebagai mahasiswa, sekaligus menjalani peran Learning Designer dalam konteks akademik. Di titik ini, magang bukan lagi soal “belajar bekerja”, tetapi tentang menyelaraskan pengalaman panjang dengan kerangka ilmiah komunikasi digital.

Ketika Pengalaman Diuji oleh Teori

Selama magang, saya terlibat dalam pengembangan materi pembelajaran digital, penyusunan script pelatihan, product knowledge, hingga service excellent. Aktivitas ini sebenarnya bukan hal baru bagi saya. Namun yang berbeda adalah cara saya memaknainya.

Jika sebelumnya saya bekerja dengan pendekatan praktis dan target oriented, kali ini saya diajak untuk berhenti sejenak dan bertanya:

  • Mengapa pesan ini disusun dengan cara tertentu?

  • Bagaimana teori komunikasi menjelaskan efektivitas konten ini?

  • Di mana posisi teknologi sebagai medium, bukan sekadar alat?

Magang ini memaksa saya melihat ulang praktik yang selama ini saya jalani, lalu mengaitkannya dengan teori komunikasi, komunikasi persuasif, dan komunikasi organisasi secara lebih sistematis

Tantangan Bukan Soal Teknis, Tapi Soal Konteks

Menariknya, tantangan terbesar selama magang bukan pada aspek teknis atau kemampuan kerja melainkan pada konteks organisasi dan budaya belajar. Rendahnya kebiasaan self learning, perbedaan latar belakang karyawan, serta hierarki komunikasi menjadi isu nyata yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pengalaman.

Di sinilah saya kembali belajar sebagai “mahasiswa”. Saya mencoba menempatkan diri bukan sebagai orang yang paling tahu, tetapi sebagai pengamat dan perancang pesan. Pendekatan persuasif, storytelling, dan edutainment menjadi jembatan antara teori dan realitas lapangan.

Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa pengalaman kerja yang panjang tidak otomatis membuat kita selalu benar. Dunia terus berubah, dan cara belajar manusia juga ikut berubah.

Magang sebagai Ruang Refleksi

Bagi saya, magang ini bukan penurunan peran, melainkan ruang refleksi. Kesempatan untuk menguji ulang apa yang selama ini saya yakini benar, lalu memperkaya praktik tersebut dengan perspektif akademik.

Di usia 36 tahun, saya justru semakin sadar bahwa belajar tidak mengenal usia. Dunia kerja dan dunia akademik bukan dua kutub yang bertentangan, melainkan saling melengkapi. Pengalaman memberi kedalaman, teori memberi kerangka berpikir.

Penutup: Bukan Akhir, Tapi Penegasan Arah

Hari ini, magang itu selesai. Tapi proses belajarnya tidak. Saya menutup perjalanan ini bukan sebagai “anak magang”, melainkan sebagai profesional yang kembali ke ruang kelas dengan kesadaran baru.

Bahwa belajar adalah proses seumur hidup.
Bahwa pengalaman perlu dipertanyakan, bukan hanya dibanggakan.
Dan bahwa komunikasi pada akhirnya selalu tentang manusia.

Tulisan ini menjadi penutup dari perjalanan magang saya sebagai Learning Designer. Sebuah jeda singkat untuk menata ulang arah, sebelum melangkah kembali ke dunia profesional dengan sudut pandang yang lebih utuh.

Hubungan Industrial 9 : Perempuan dan Dunia Kerja: Catatan dari Balik Layar Webinar

 


Halo Genks!

Jujur saja, ngurus acara webinar dengan tema perempuan dan dunia kerja itu rasanya beda. Dari awal kami sadar, ini bukan topik yang bisa diperlakukan sekadar formalitas acara. Bukan juga sekadar agenda yang lewat begitu saja. Ada banyak realitas di balik tema ini yang sering kita dengar, tapi jarang benar benar kita duduk dan pikirkan.

Webinar ini kami selenggarakan pada Sabtu, 10 Januari 2026, dengan menghadirkan Ibu Enti Roswati dan Ibu Serepina Tiur Maida, serta dipandu oleh Kak Charrys Gabriyella sebagai moderator. Dari proses persiapan sampai pelaksanaan, satu hal yang terus terasa adalah bahwa isu perempuan di dunia kerja itu dekat. Nyata. Dan sering kali terjadi di sekitar kita tanpa disadari.

Perempuan Bekerja dan Kontribusi yang Tidak Kecil

Hari ini perempuan bekerja bukan lagi hal yang langka. Perempuan hadir di berbagai sektor, dari pekerjaan profesional sampai posisi kepemimpinan. Mereka terlibat dalam pengambilan keputusan, pengembangan ide, inovasi, dan kerja tim. Keberagaman gender justru sering membuat proses kerja jadi lebih kaya dan kolaboratif.

Tapi di balik kontribusi itu, ada realitas lain yang tidak selalu seimbang. Diskriminasi upah masih terjadi. Kesempatan karier sering tidak setara. Beban kerja ganda seolah dianggap hal biasa. Stereotip tentang perempuan yang dianggap kurang tegas atau terlalu emosional masih sering muncul.

Di titik ini, bekerja bagi perempuan sering kali bukan hanya soal profesionalitas, tapi juga soal bertahan.

Kekerasan yang Sering Tidak Terlihat

Salah satu hal yang paling membuka mata dari webinar ini adalah pemahaman bahwa kekerasan tidak selalu berbentuk fisik. Kekerasan bisa hadir dalam bentuk tekanan psikologis, pelecehan verbal, kontrol berlebihan, candaan yang merendahkan, sampai kekerasan seksual yang sering disamarkan sebagai hal sepele.

Relasi kuasa menjadi akar dari banyak kasus. Ketika satu pihak merasa lebih berkuasa, batas antara bercanda dan melecehkan menjadi kabur. Banyak korban memilih diam bukan karena tidak terluka, tetapi karena takut, bingung, dan merasa tidak punya ruang aman untuk bersuara.

Ironisnya, kekerasan sering terjadi di ruang yang seharusnya paling aman. Rumah, sekolah, dan tempat kerja.

Dunia Kerja yang Terlihat Normal Tapi Tidak Selalu Sehat

Dalam dunia kerja, ada banyak hal yang sudah terlalu lama dinormalisasi. Candaan seksis dianggap biasa. Tekanan kerja dibungkus atas nama loyalitas. Perempuan yang bersuara sering dicap emosional. Perempuan yang memilih keluarga dianggap kurang profesional.

Padahal lingkungan kerja yang sehat seharusnya memberi rasa aman. Aman untuk bekerja, aman untuk berkembang, dan aman untuk menjadi manusia tanpa rasa takut dilecehkan atau direndahkan.

Di sinilah perlindungan menjadi penting. Bukan hanya perlindungan hukum, tetapi juga perlindungan sosial, psikologis, dan budaya kerja yang saling menghormati.

Perlindungan Bukan Sekadar Aturan

Webinar ini juga mengingatkan bahwa perlindungan tidak cukup hanya lewat kebijakan dan aturan tertulis. Kesadaran kolektif punya peran yang jauh lebih besar. Edukasi yang berkelanjutan, sistem pelaporan yang aman, dan keberanian untuk menolak pelecehan harus menjadi bagian dari keseharian.

Perlindungan bukan berarti memanjakan. Perlindungan berarti memastikan setiap orang memiliki hak yang sama untuk bekerja tanpa rasa takut. Perempuan tidak membutuhkan belas kasihan. Yang dibutuhkan adalah keadilan dan ruang aman.

Harapan yang Mulai Terlihat

Meski pembahasannya berat, webinar ini tidak berhenti pada pesimisme. Ada harapan yang perlahan muncul. Kesadaran tentang kesetaraan gender semakin terbuka. Isu pelecehan tidak lagi sepenuhnya ditutup tutupi. Ruang diskusi mulai tercipta, meski jalannya masih panjang.

Harapan itu ada pada perubahan sikap, budaya, dan cara kita memperlakukan sesama. Dunia kerja yang aman dan adil bukan hal mustahil jika perlindungan benar benar dijadikan nilai, bukan sekadar tulisan di dokumen.

Penutup: Jangan Diam dan Jangan Sendirian

Webinar ini pada akhirnya mengingatkan kita pada satu hal penting. Kekerasan bukan sesuatu yang harus ditanggung sendirian. Dan diam bukan solusi, meski sering terasa sebagai pilihan paling aman.

Buat siapa pun yang pernah mengalami kekerasan, pelecehan, atau perlakuan tidak adil, ingat satu hal sederhana. Kamu tidak salah. Kamu berhak merasa aman, didengar, dan dilindungi.

Dan buat kita yang mungkin pernah melihat, mendengar, atau mencurigai adanya kekerasan di sekitar kita, jangan berpikir bahwa itu bukan urusan kita. Kepedulian kecil bisa jadi langkah besar untuk menghentikan kekerasan yang lebih panjang.

Jika kamu menjadi korban atau saksi, jangan ragu untuk melakukan pelaporan ke PPA. Lembaga ini ada bukan untuk menghakimi, tapi untuk melindungi, mendampingi, dan memastikan hak hak korban tetap terpenuhi. Pelaporan bukan tanda kelemahan. Justru itu bentuk keberanian.

Karena pada akhirnya, ruang aman tidak tercipta dengan sendirinya. Ia dibangun dari keberanian untuk bersuara dan dari keputusan untuk tidak lagi membiarkan kekerasan dianggap biasa.

Kamu tidak sendiri. Dan selalu ada tempat untuk mencari bantuan.

Wednesday, 7 January 2026

Hubungan Industrial 8 : Bukan Soal Gaji, Tapi Rasa Aman: Pelajaran Kepemimpinan dari Tempat Kerja Pertama Saya




Halo teman-teman! 👋

Pernah nggak sih kita berada di satu tempat kerja yang membuat kita bertahan bukan karena angka di slip gaji, tapi karena rasa aman, nyaman, dan dihargai sebagai manusia? Saya pernah. Dan pengalaman itu masih saya bawa sampai hari ini.

Belajar Bekerja, Belajar Menjadi Manusia

Beberapa tahun lalu, saya bekerja di sebuah perusahaan ritel teknologi besar sebut saja perusahaan X. Saat itu, posisi saya adalah product trainer. Saya menjalani peran tersebut lebih dari lima tahun waktu yang cukup panjang untuk sebuah perjalanan profesional.

Kalau bicara soal materi, jujur saja, kondisi saat itu tidak bisa dibilang “wah”. Gaji saya lebih kecil dibandingkan para sales yang saya latih. Mereka punya insentif dan bonus bulanan, sementara saya hanya menerima gaji tetap. Secara logika finansial, seharusnya saya mudah tergoda untuk pindah. Tapi nyatanya, saya bertahan.

Kenapa?

Karena lingkungan kerjanya suportif dengan cara yang jarang saya temui di tempat lain.

Atasan Bukan Sekadar Bos, Tapi Coach

Di sana, atasan saya tidak memosisikan diri sebagai penguasa, melainkan sebagai coach. Bukan hanya fokus pada target, tapi benar-benar memikirkan pengembangan bawahannya. Saya tidak hanya diajari apa yang harus dikerjakan, tapi juga kenapa hal itu penting dan bagaimana cara bertumbuh sebagai profesional.

Saat itu, latar belakang pendidikan saya masih lulusan SMA. Jujur, saya merasa tempat kerja tersebut seperti ruang belajar lanjutan. Saya mendapatkan banyak ilmu dasar: komunikasi, kepemimpinan, empati, hingga cara memandang pekerjaan secara sehat. Kantor bukan hanya tempat mencari nafkah, tapi juga tempat membentuk karakter.

Bekerja, Tapi Keluarga Tetap Nomor Satu

Salah satu nilai paling kuat yang saya dapatkan di sana adalah satu hal sederhana tapi berdampak besar:
keluarga tidak boleh dikorbankan atas nama pekerjaan.

Nilai ini bukan sekadar jargon. Ia benar-benar dipraktikkan. Dan tanpa sadar, nilai itu tertanam dalam diri saya hingga membentuk gaya kepemimpinan saya hari ini.

Contohnya, ketika saya sudah berada di posisi memiliki tim sendiri di perusahaan terakhir. Suatu hari, salah satu anggota tim saya harus sering izin karena ayahnya sakit keras dan dirawat di rumah sakit. Awalnya ia hanya meminta pulang lebih cepat. Tapi saya tahu, kondisinya tidak sesederhana itu.

Saya memutuskan untuk memberikan full WFH, tanpa tugas yang mengharuskan ke kantor. Bahkan, saya membuat grup WhatsApp baru dan tidak emmasukannya dalam group, agar dia bisa fokus saat menjaga ayahnya dan menganggap bawh situasi pekerjaan saat ini ini sedang "aman".

Hampir satu bulan kondisi ini berlangsung. Hingga akhirnya, ayahnya wafat.

Dan sampai hari ini, saya tidak pernah menyesali keputusan itu. Justru sebaliknya. Saya merasa keputusan tersebut keputusan yang paling tepat saya ambil saat itu, karena saya merasa itu adalah bentuk kepemimpinan yang paling manusiawi, suatu pembelajaran yang dulu saya pelajari secara tidak langsung dari tempat kerja pertama yang membentuk saya.

Lebih dari Sekadar Pekerjaan

Pengalaman bekerja di perusahaan X mengajarkan saya bahwa tempat kerja yang sehat tidak selalu tentang gaji terbesar atau jabatan tertinggi. Kadang, ituadalah ruang aman untuk belajar, berkembang, dan pembentukan akrakter. saya merasa beruntung karena di "tempa" di tempat yang baik sehingga menjadi pribadi saat ini karena kita bisa memilih pekerjaan tapi kita tidak bisa memilih pimpinan.

Dan mungkin, itulah alasan kenapa saya bisa bertahan lebih dari lima tahun di sana. Karena pada akhirnya, rasa nyaman dan nilai yang kita pegang sering kali lebih mahal dari sekadar angka.

Saturday, 27 December 2025

Hubungan Industrial 7 : Perempuan dan Dunia Kerja: Kenapa Isu Ini Penting untuk Dibahas?




Halo teman-teman! 👋
Pernah nggak sih kita dengar cerita tentang perempuan yang merasa tidak nyaman di tempat kerja, tapi memilih diam karena takut? Atau mungkin justru pernah melihat langsung, tapi bingung harus bersikap bagaimana?

Faktanya, perempuan di dunia kerja masih menghadapi persoalan serius yang sering dianggap “normal”. Mulai dari komentar yang merendahkan, perlakuan tidak adil, sampai pelecehan yang berdampak besar secara psikologis dan profesional. Sayangnya, banyak kasus tidak pernah dilaporkan karena rasa takut, tekanan lingkungan, dan minimnya perlindungan.

Isu seperti ini tidak cukup hanya dibicarakan di balik layar. Perlu ruang aman untuk berdiskusi, berbagi pengetahuan, dan mencari solusi bersama.

Kenapa Banyak Kasus Pelecehan Tidak Terungkap?

Salah satu alasan utama adalah rasa takut. Takut kehilangan pekerjaan, takut disalahkan, atau takut dianggap berlebihan. Di sisi lain, tidak semua orang tahu harus mengadu ke mana dan bagaimana prosesnya.

Padahal, pemahaman tentang hak, perlindungan, dan mekanisme pendampingan sangat penting, bukan hanya bagi perempuan, tapi juga bagi lingkungan kerja secara keseluruhan. Tempat kerja yang aman bukan tanggung jawab satu pihak saja, melainkan tanggung jawab bersama.

Ruang Diskusi yang Aman dan Relevan

Berangkat dari kondisi tersebut, akan diselenggarakan sebuah webinar yang membahas isu perempuan dan dunia kerja secara terbuka, relevan, dan membumi. Webinar ini tidak hanya membahas masalah, tapi juga membuka harapan dan jalan keluar.

📣 WEBINAR (GRATIS)
Perempuan dan Dunia Kerja: Antara Perlindungan, Pelecehan, dan Harapan Baru

Dalam webinar ini, peserta akan mendapatkan gambaran nyata tentang:

  • Bentuk-bentuk pelecehan dan diskriminasi di dunia kerja

  • Mengapa korban sering memilih diam

  • Peran pendampingan dan perlindungan bagi perempuan

  • Bagaimana membangun lingkungan kerja yang lebih aman dan beretika


Narasumber yang Berpengalaman

🎙 Narasumber:

  • Enti Roswati, S.Pd
    (Divisi Pengaduan dan Pendampingan – P2TP2A Tangerang)

  • Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom
    (Dosen Komunikasi & Pemerhati Perlindungan Perempuan dan Anak)

🎤 Moderator: Charrys Gabriyella
🎤 MC: Rapli Aditya

Diskusi akan dipandu secara komunikatif agar mudah dipahami dan relevan dengan realitas yang sering terjadi di sekitar kita.

Catat Tanggalnya!

🗓 Sabtu, 10 Januari 2026
10.00 – 12.00 WIB

🎓 E-sertifikat tersedia dengan biaya Rp10.000
Seluruh pendapatan akan disalurkan untuk bantuan bencana alam di Sumatera

🔗 Link Pendaftaran:
👉 Bit.ly/WEBINARUMTPPA

📞 Contact Person:
IQBAL — 088213669579

Yuk, Jadi Bagian dari Perubahan

Membicarakan isu perempuan dan dunia kerja bukan untuk menyalahkan, tapi untuk saling memahami dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman, adil, dan manusiawi.

Kalau kamu peduli, pernah mengalami, atau sekadar ingin menambah wawasan—webinar ini untuk kamu.
Karena lingkungan kerja yang aman perlu diperjuangkan bersama.

Saturday, 20 December 2025

Magang 7 : Etika Profesi di Era Digital: Ketika Jam Kerja Usai, Tanggung Jawab Tak Ikut Pulang





Halo teman-teman! 👋

Pernah nggak sih merasa kalau setelah jam kerja selesai, kita sepenuhnya bebas melakukan apa saja di media sosial? Nyatanya, di era digital sekarang, batas antara kehidupan personal dan profesional semakin kabur.

Di era digital saat ini, satu hal penting semakin terasa: etika profesi tidak berhenti ketika jam kerja berakhir. Justru di ruang publik digital, identitas profesional sering kali semakin terlihat dan mudah dinilai oleh publik.

Etika Profesi: Bukan Sekadar Aturan di Kantor

Secara sederhana, etika profesi adalah pedoman nilai dan norma yang mengarahkan perilaku seseorang dalam menjalankan peran profesionalnya. Etika ini menuntut tanggung jawab moral, integritas, dan kehati-hatian, terutama ketika tindakan seseorang dapat memengaruhi kepercayaan publik.

Masalahnya, banyak orang masih memandang etika profesi hanya berlaku di kantor, saat mengenakan seragam, atau selama jam kerja formal. Padahal, di era media sosial, perilaku kita di ruang publik digital sering kali dipersepsikan sebagai cerminan dari profesi dan institusi tempat kita bekerja.

Media Sosial dan Kaburnya Batas Profesional

Perkembangan teknologi dan media sosial membuat aktivitas profesional tidak lagi terbatas pada ruang kerja fisik. Setiap unggahan, komentar, atau respons di media sosial bisa diakses oleh siapa saja, kapan saja. Di sinilah tantangannya muncul.

Penelitian menunjukkan bahwa media sosial kerap menjadi ruang turunnya kehati-hatian dalam berkomunikasi. Unggahan yang bersifat emosional, spontan, atau personal bisa dengan cepat disebarkan dan ditafsirkan secara luas. Akibatnya, risiko pelanggaran etika profesi pun meningkat, meskipun niat awalnya tidak selalu buruk.

Ketika Peristiwa Personal Menjadi Masalah Profesional

Salah satu contoh nyata dari kondisi ini adalah kasus kehilangan tumbler di kereta yang viral di media sosial. Peristiwa yang awalnya bersifat personal berubah menjadi konsumsi publik setelah diunggah secara digital. Reaksi netizen pun bermunculan dalam skala besar.

Yang menarik, fokus publik tidak hanya tertuju pada peristiwa kehilangan itu sendiri, tetapi juga pada identitas profesional individu yang terlibat serta institusi tempat ia bekerja. Dari sinilah terlihat bahwa ruang digital mampu menggeser peristiwa personal menjadi persoalan profesional.

Dampak Sosial dan Profesional yang Tidak Bisa Diabaikan

Di era digital, reaksi publik dapat menyebar sangat cepat. Ketika sebuah unggahan viral, dampaknya sering kali tidak berhenti pada individu, tetapi juga menyeret nama institusi. Reputasi organisasi, kepercayaan publik, dan hubungan dengan pemangku kepentingan bisa ikut terpengaruh.

Hal ini menunjukkan bahwa tekanan sosial di ruang digital memiliki konsekuensi nyata. Bukan hanya soal citra, tetapi juga keputusan profesional yang diambil oleh institusi sebagai respons terhadap opini publik.

Tanggung Jawab Bersama: Individu dan Institusi

Etika profesi bukan hanya tanggung jawab individu. Institusi juga memiliki peran penting dalam menetapkan pedoman, batasan, serta pembinaan etika bagi para profesionalnya. Di sisi lain, individu dituntut untuk sadar bahwa setiap tindakan komunikasi di ruang publik digital membawa konsekuensi.

Dengan kata lain, profesionalisme di era digital menuntut kerja sama antara kesadaran personal dan sistem etika institusional.

Refleksi: Etika sebagai Identitas yang Melekat

Dari kasus dan pembahasan ini, satu hal menjadi jelas: etika profesi adalah tanggung jawab yang melekat, bukan aturan situasional. Media sosial telah membuat identitas profesional sulit dilepaskan dari kehidupan personal, terutama ketika berada di ruang publik digital.

Karena itu, kehati-hatian, empati, dan kesadaran etis menjadi kunci agar kita tidak terjebak pada dampak profesional yang sebenarnya bisa dihindari.

Penutup

Jam kerja boleh selesai. Seragam boleh dilepas.
Namun di era digital, identitas profesional tetap berjalan bersama kita.

Seperti kata John Wooden:

“Your reputation is what people think you are, your character is what you really are.”

Pada akhirnya, etika profesi bukan hanya tentang citra di mata publik, tetapi tentang karakter yang konsisten, baik saat diawasi maupun tidak. Dan di dunia digital yang serba terbuka, karakter itulah yang paling mudah terlihat.


Sumber

Azzahra, U., dkk. (2024). Etika profesi dan profesionalisme dalam praktik public relations di era digital. Jurnal El-Mujtama.

Nadeaka, L. V., dkk. (n.d.). Etika profesi dalam komunikasi digital.

Puspitarani, S., dkk. (2025). Etika profesi dan tanggung jawab komunikasi di era media digital.

Turnip, R., & Siahaan, H. (2021). Etika komunikasi dan media sosial dalam konteks profesional.

Pos Kota. (2025). Dihujat netizen, Anita Dewi penumpang KRL yang bikin petugas PT KAI dipecat gara-gara tumbler.

Tribunnews Bogor. (2025). Kronologi viral kasus tumbler di KRL dan isi percakapan yang beredar di media sosial.

Wooden, J. (n.d.). Reflections on character and leadership.

Sunday, 7 December 2025

Magang 6 : Hambatan Komunikasi Lintas Budaya di Lingkungan Kerja India

 


Magang sering dianggap sebagai proses belajar pekerjaan, tapi bagi saya pengalaman magang ini justru membuka pemahaman baru tentang komunikasi dan budaya. Di tempat saya magang sekarang sebagian besar orang yang bekerja adalah India. Mulai dari pemilik toko hingga supervisor dan staf gudang. Situasi ini membuat proses adaptasi terasa berbeda karena bukan hanya pekerjaannya yang baru tetapi juga cara mereka berkomunikasi.

Pengaruh Budaya dalam Cara Berkomunikasi

Hal pertama yang saya perhatikan adalah bahwa hubungan kerja mereka masih dipengaruhi budaya kasta. Atasan biasanya berasal dari kasta yang lebih tinggi sedangkan pekerja gudang dan sales kebanyakan berasal dari kelompok India berkulit lebih gelap yang mereka anggap berada di kasta lebih rendah.

Perbedaan ini terlihat dari cara berbicara, sikap saat memberi instruksi, sampai bagaimana mereka memperlakukan satu sama lain. Sebagai orang lokal saya perlu waktu untuk memahami pola komunikasi tersebut agar bisa mengikuti ritme kerja mereka.

Tantangan Menjadi Orang Lokal

Di awal magang saya merasakan bahwa orang India di tempat kerja kurang percaya dengan orang lokal Indonesia. Tugas yang diberikan biasanya kecil lebih dulu dan mereka sangat memperhatikan apakah saya mengikuti instruksi dengan teliti.

Namun perlahan saya memahami bahwa sikap ini bukan bermaksud meremehkan. Bagi komunitas India yang bergerak di bidang tekstil kepercayaan adalah hal paling penting. Mereka hanya memberi tanggung jawab penuh kepada orang yang benar benar dianggap jujur dan bisa dipercaya. Butuh proses untuk sampai ke tahap itu.

Kepercayaan yang Berbuah Kesetiaan

Hal menarik yang saya pelajari adalah ketika mereka sudah percaya pada seseorang hubungan kerja menjadi sangat kuat. Di toko tempat saya magang beberapa karyawan lokal sudah bekerja belasan tahun. Mereka dianggap orang kepercayaan keluarga dan bukan sekadar staf.

Bahkan ada cerita bahwa jika satu toko tekstil milik komunitas India bangkrut maka toko India lainnya akan mengajak karyawan lokal yang sudah dipercaya untuk bekerja di tempat mereka. Bagi mereka kemampuan bisa dipelajari tetapi sifat jujur dan loyal sangat sulit ditemukan.

Inilah alasan orang lokal yang sudah dipercaya bisa bekerja sampai usia pensiun bersama komunitas India meski tokonya berbeda.

Belajar Komunikasi Antarbudaya

Magang ini mengajarkan saya bahwa komunikasi tidak terlepas dari budaya. Cara berbicara ekspresi wajah dan nada suara harus disesuaikan dengan karakter orang yang kita hadapi. Saya belajar untuk lebih sabar lebih peka dan lebih fleksibel saat menerima instruksi maupun menyampaikan pendapat.

Hambatan budaya membuat proses bekerja sedikit lebih berat pada awalnya tetapi pada akhirnya menjadi ruang belajar yang sangat berharga.

Penutup

Magang di lingkungan yang dipenuhi pekerja India membuat saya memahami bahwa perbedaan budaya bukan penghalang tetapi kesempatan untuk belajar hal baru. Membangun kepercayaan memang membutuhkan waktu tetapi ketika sudah terjalin hubungan kerja bisa menjadi sangat kuat.

Di balik perbedaan kebiasaan dan cara berkomunikasi ada nilai yang selalu mereka pegang yaitu bahwa orang yang sudah dipercaya akan dijaga dan dihargai. Bagi saya ini menjadi pelajaran penting bahwa integritas dan sikap bekerja jauh lebih menentukan daripada latar belakang apa pun.

Saturday, 6 December 2025

Hubungan Industrial 6 : Outsourcing dari Dua Sisi Pengalaman Lapangan dan Pelajaran dari Kasus PT X di Yogyakarta


Outsourcing sering dianggap sebagai sistem kerja yang merugikan pekerja. Banyak orang percaya bahwa gaji mereka dipotong, hak haknya dibatasi, dan posisinya tidak pernah seaman karyawan tetap. Pandangan itu memang muncul karena berbagai kasus negatif yang terjadi di lapangan. Namun pengalaman saya bekerja bersama tenaga outsourcing justru menunjukkan bahwa kenyataannya tidak selalu sesederhana itu. Ada sisi yang bisa berjalan baik, dan ada sisi yang bisa sangat merugikan.

Perbedaan ini membuat saya ingin membagikan dua perspektif. Pertama, pengalaman pribadi ketika bekerja dengan tenaga outsourcing di perusahaan. Kedua, pelajaran dari penelitian akademis mengenai kasus nyata di Yogyakarta yang menampilkan sisi paling rentan dari pekerja outsourcing.

Pengalaman Lapangan ketika Outsourcing Berjalan Sehat

Pada rentang tahun 2017 - 2023 saya bekerja dengan beberapa anggota tim yang merupakan pekerja outsourcing. Dari pengalaman tersebut, saya melihat bahwa praktik outsourcing sebenarnya bisa berjalan secara adil dan transparan. Vendor tidak memotong gaji pekerja. Perusahaan membayar gaji penuh untuk pekerja sesuai yang ditetapkan, lalu menambahkan fee resmi untuk vendor sebagai biaya layanan administrasi dan rekrutmen.

Jika gaji seorang pekerja adalah satu juta rupiah, perusahaan membayar total satu juta seratus ribu. Pekerja menerima satu juta penuh. Tidak ada potongan tidak jelas. Model seperti ini menurut saya adalah bentuk kerja sama yang sehat. Pekerja menerima haknya dan vendor tetap mendapatkan kompensasi atas jasa yang mereka berikan.

Alasan perusahaan menggunakan tenaga outsourcing waktu itu juga bukan untuk menekan biaya. Ada keterbatasan jumlah karyawan tetap yang bisa direkrut. Proses persetujuan headcount sangat ketat sehingga keberadaan pekerja outsourcing membantu menutup kebutuhan tenaga kerja dalam waktu cepat. Tanpa mereka, operasional bisa terhambat.

Namun, sistem ini tetap memiliki sisi lain yang tidak selalu mudah. Kontrak outsourcing di tempat saya bertugas dibatasi maksimal tiga tahun. Setelah melewati batas itu, pekerja harus berpindah ke vendor lain meskipun lokasi kerja dan tugasnya tetap sama. Dari sisi perusahaan, ini dianggap sebagai kepatuhan terhadap aturan hubungan kerja. Tetapi dari sisi pekerja, perpindahan ini sering menimbulkan rasa tidak aman yang terus berulang. Mereka tetap bekerja di lokasi yang sama, tetap bersama rekan kerja yang sama, tetapi status administratifnya harus berubah.

Ketika Outsourcing Tidak Sehat

Pelajaran dari Kasus PT X di Yogyakarta

Selain pengalaman pribadi yang relatif positif, saya juga membaca penelitian akademis yang memberikan gambaran berbeda tentang praktik outsourcing. Penelitian yang dilakukan oleh Chairunnisa Ramadhani Putri Nursalin dan Leli Joko Suryono (2020) dalam jurnal MEDIA of LAW and SHARIA Vol. 2 No. 2 mengungkap kondisi pekerja outsourcing di PT X di Yogyakarta. Temuan ini kemudian juga dikutip dalam penelitian Wiwin Budi Pratiwi dan Devi Andani (2022) yang terbit di Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM Vol. 29 No. 3.

Kasus PT X ini menunjukkan bagaimana sistem outsourcing dapat berjalan dengan tidak sehat dan bahkan merugikan tenaga kerja. Berikut pelanggaran yang ditemukan dalam penelitian tersebut.

Waktu kerja yang tidak sesuai aturan
Pekerja diminta bekerja melebihi batas waktu yang seharusnya tanpa pengaturan yang benar.

Waktu istirahat tidak diberikan secara layak
Hak istirahat yang wajib diberikan kepada pekerja tidak dilaksanakan dengan benar sehingga pekerja rentan kelelahan.

Upah lembur tidak dibayarkan sesuai ketentuan
Pekerja tetap diminta lembur tetapi tidak mendapatkan kompensasi sebagaimana yang diwajibkan oleh regulasi.

Persyaratan pengupahan tidak dipenuhi
Struktur pengupahan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku dan pekerja menerima upah yang tidak layak.

Kompensasi kecelakaan kerja tidak diberikan
Ketika terjadi kecelakaan kerja, hak pekerja untuk mendapatkan perlindungan dan kompensasi tidak dipenuhi.

Seluruh pelanggaran tersebut secara langsung merugikan pekerja outsourcing. Mereka menjalankan pekerjaan yang sama seperti karyawan tetap tetapi berada pada posisi rentan tanpa perlindungan yang memadai. Kasus PT X menjadi contoh nyata bagaimana outsourcing dapat disalahgunakan jika perusahaan tidak mematuhi aturan dan tidak menjalankan tanggung jawab hukum mereka.

Dua Realitas dalam Satu Sistem

Ketika saya membandingkan pengalaman pribadi dengan temuan akademis tentang PT X, terlihat jelas bahwa kualitas praktik outsourcing sangat ditentukan oleh sikap perusahaan.

Di satu sisi, outsourcing bisa berjalan sehat jika:

  • gaji dibayarkan penuh

  • hak pekerja dihormati

  • vendor transparan

  • beban kerja sesuai aturan

Di sisi lain, outsourcing bisa menjadi sangat merugikan jika:

  • jam kerja dilanggar

  • upah lembur diabaikan

  • hak dasar tidak diberikan

  • pekerja diperlakukan sekadar sebagai pelengkap operasional

Sistemnya sama, tetapi hasilnya sangat berbeda.

Penutup

Fleksibilitas Tidak Boleh Menghilangkan Kemanusiaan

Pengalaman saya bekerja dengan tenaga outsourcing mengajarkan bahwa sistem ini bisa berjalan baik dan memberi manfaat bagi kedua pihak. Perusahaan mendapat fleksibilitas dan pekerja mendapat kesempatan kerja yang layak. Namun pelajaran dari kasus PT X di Yogyakarta menunjukkan bahwa tanpa pengawasan yang kuat, sistem yang sama bisa berubah menjadi praktik yang tidak manusiawi.

Outsourcing bukan hanya soal efisiensi. Ini tentang manusia, hak hak mereka, dan tanggung jawab perusahaan untuk memastikan bahwa setiap orang yang bekerja mendapatkan perlakuan yang adil.

Jika dijalankan dengan transparansi dan etika, outsourcing bisa menjadi solusi. Tetapi jika disalahgunakan, ia bisa menjadi sumber ketidakadilan yang nyata di tempat kerja.


Daftar Pustaka

Chairunnisa Ramadhani Putri Nursalin, & Leli Joko Suryono. (2020). Perlindungan Hukum Tenaga Kerja Pada Perjanjian Kerja Outsourcing. MEDIA of LAW and SHARIA, 2(2), 136–145.

Pratiwi, W. B., & Andani, D. (2022). Perlindungan Hukum Tenaga Kerja Dengan Sistem Outsourcing di Indonesia. IUS QUIA IUSTUM, 29(3), 507–526.

Wednesday, 12 November 2025

Magang 5 : Magang di Tengah Pengalaman Profesional - Sebuah Proses Penyesuaian

 




Magang biasanya diidentikkan dengan mahasiswa yang baru mengenal dunia kerja. Namun bagi sebagian orang, termasuk saya yang sudah lama berkarier di bidang pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia, program ini memiliki makna yang berbeda.

Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi (Digital Communication) di Universitas Mpu Tantular, saya mendapat kesempatan untuk melaksanakan program magang di Mitra Textile Jakarta sebagai Learning Designer. Kegiatan ini berlangsung dari 10 November 2025 hingga 9 Januari 2026.


Magang dalam Konteks Pengalaman Kerja

Dengan latar belakang pengalaman di bidang Learning & Development selama lebih dari satu dekade, magang ini tidak saya pandang sebagai proses “belajar dari awal”, melainkan sebagai bentuk penyelarasan antara dunia akademik dan praktik profesional yang sudah saya jalani.

Tanggung jawab saya di Mitra Textile mencakup mendukung proses transformasi pembelajaran digital, menyusun naskah untuk materi product knowledge, serta membantu pengembangan materi service excellent. Meskipun jenis pekerjaannya tidak jauh berbeda dengan yang pernah saya tangani sebelumnya, konteksnya kali ini berbeda: kegiatan ini berada dalam kerangka akademik, dengan tujuan untuk mendokumentasikan dan menghubungkan teori dengan praktik lapangan.


Antara Akademik dan Profesional

Program magang bagi mahasiswa berpengalaman sebenarnya dapat menjadi sarana untuk meninjau kembali pola kerja dan memperbarui perspektif terhadap dunia industri. Walau sebagian proses terasa administratif, saya melihat kesempatan ini sebagai ruang refleksi untuk menilai kembali bagaimana pengalaman kerja dapat diselaraskan dengan pendekatan akademik yang lebih sistematis.

Selain itu, program ini juga menjadi jembatan bagi dunia kampus dan industri, terutama dalam bidang komunikasi digital yang terus berkembang. Melalui magang ini, saya dapat berkontribusi sekaligus memahami cara perusahaan tradisional seperti Mitra Textile melakukan transformasi ke arah pembelajaran digital.

Penutup

Magang di Mitra Textile bagi saya bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi sarana untuk menyatukan dua sisi yang sama-sama penting: pengalaman profesional dan pemahaman teoretis.

Setiap proses memiliki nilainya sendiri, dan meskipun bentuknya berbeda dari pengalaman kerja sebelumnya, kegiatan ini tetap menjadi kesempatan untuk meninjau ulang, beradaptasi, dan melihat dunia kerja dari sudut pandang yang lebih luas.

Sunday, 2 November 2025

Magang 4 : Nggak Selalu Mulus: Belajar dari Hambatan dan Hal yang Nggak Mengenakkan





Halo Genks

Kalau dengar kata magang, banyak orang langsung membayangkan pengalaman seru, dapat ilmu baru, dan kesempatan kerja setelah lulus. Tapi kenyataannya, tidak semua pengalaman magang berjalan semanis itu. Ada juga hal-hal yang terasa sulit, membingungkan, bahkan kadang membuat kita ingin cepat-cepat selesai.

Namun di balik semua itu, justru banyak pelajaran berharga yang bisa diambil. Mari kita bahas bersama tentang sisi lain dari pengalaman magang yang jarang dibicarakan.


Awal yang Tidak Selalu Sesuai Ekspektasi

Banyak peserta magang yang datang dengan semangat tinggi. Mereka membayangkan akan diberi tugas-tugas besar, diajak rapat penting, atau dilibatkan dalam proyek besar perusahaan. Tapi begitu masuk, kenyataannya tidak selalu seperti itu.

Ada yang hanya diberi tugas administratif, membantu input data, atau membuat laporan sederhana. Kadang muncul rasa kecewa karena merasa kemampuan yang dimiliki tidak terpakai. Di sinilah pentingnya memahami bahwa magang memang dimulai dari hal kecil. Tugas sederhana pun sebenarnya bagian dari proses belajar tentang tanggung jawab dan ketelitian.


Hambatan dalam Komunikasi dan Adaptasi

Salah satu tantangan paling umum selama magang adalah beradaptasi dengan lingkungan kerja. Setiap kantor punya budaya yang berbeda, mulai dari cara berbicara, jam kerja, hingga gaya kepemimpinan.

Tidak jarang peserta magang merasa canggung untuk bertanya, takut dianggap tidak kompeten, atau bahkan kesulitan memahami instruksi atasan.
Dalam situasi seperti ini, komunikasi menjadi kunci utama. Lebih baik bertanya dengan sopan daripada salah dalam bekerja. Selain itu, menjaga sikap terbuka terhadap kritik juga penting agar kita bisa berkembang.

Tantangan dalam Manajemen Waktu dan Tekanan Pekerjaan

Meski statusnya masih belajar, peserta magang sering kali dituntut untuk menyelesaikan tugas tepat waktu dan dengan hasil yang baik. Tekanan ini bisa terasa berat, apalagi jika harus membagi waktu antara magang dan tugas kuliah.

Beberapa orang juga mengalami kelelahan karena harus menyesuaikan diri dengan ritme kerja yang padat. Di sinilah pentingnya kemampuan mengatur waktu dan menjaga keseimbangan antara tanggung jawab pribadi dan profesional.


Kurangnya Bimbingan dan Arahan

Tidak semua tempat magang memiliki sistem pembimbingan yang baik. Kadang peserta magang hanya diberi tugas tanpa penjelasan jelas. Ada juga yang merasa seperti dibiarkan bekerja sendiri tanpa tahu apakah yang dilakukan sudah benar atau belum.

Situasi seperti ini memang tidak nyaman. Tapi justru dari sini kita belajar untuk lebih mandiri dan proaktif mencari tahu. Jika tidak paham, cobalah berdiskusi dengan rekan kerja atau meminta arahan dengan sopan. Dunia kerja memang tidak selalu memberi panduan langkah demi langkah, dan magang adalah kesempatan untuk belajar menghadapi kondisi itu.


Menghadapi Kritik dan Kesalahan

Kesalahan dalam bekerja saat magang adalah hal yang wajar. Kadang kita salah mengetik data, salah menafsirkan instruksi, atau terlambat menyelesaikan tugas. Namun yang paling penting bukan menghindari kesalahan, melainkan bagaimana cara kita menyikapinya.

Beberapa peserta magang merasa tersinggung saat dikritik, padahal kritik sering kali diberikan agar kita bisa memperbaiki diri. Dunia kerja menuntut mental yang kuat dan siap belajar dari kesalahan. Dari setiap teguran, selalu ada pelajaran yang bisa membuat kita lebih matang.


Refleksi: Magang Bukan Sekadar Tentang Tugas, Tapi Tentang Diri Sendiri

Pada akhirnya, magang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Kadang kita merasa tidak dihargai, merasa salah tempat, atau lelah karena ritme kerja yang berat. Tapi di balik itu semua, setiap hambatan adalah bagian dari proses pembentukan karakter profesional.

Magang mengajarkan kita untuk lebih sabar, lebih tangguh, dan lebih bijak dalam menghadapi situasi sulit. Pengalaman yang terasa tidak menyenangkan hari ini bisa jadi bekal penting di masa depan. Karena dunia kerja nyata juga tidak selalu ideal, dan magang adalah latihan terbaik untuk menghadapinya.

Saturday, 1 November 2025

Magang 3 : Nggak Cuma Ngopi dan Fotokopi: Cerita Seru Belajar Dunia Kerja yang Sesungguhnya!





Halo Genks

Pernah dengar kata magang dan langsung terbayang kerjaannya cuma bikin kopi atau fotokopi dokumen kantor seharian?
Padahal, magang itu jauh lebih dari sekadar kegiatan administratif. Sekarang magang menjadi bagian penting dari proses belajar untuk mengenal dunia kerja secara nyata. Bukan hanya sebagai syarat kuliah, tetapi juga sebagai sarana untuk mengasah kemampuan dan membangun kesiapan diri sebelum benar-benar bekerja.


Apa Itu Magang

Secara sederhana, magang adalah kegiatan belajar sambil bekerja di lingkungan kerja yang sebenarnya.
Biasanya dilakukan oleh mahasiswa atau pelajar tingkat akhir dengan tujuan untuk memahami bagaimana teori yang selama ini dipelajari diterapkan di dunia profesional.

Melalui magang, seseorang bisa belajar mengenal budaya organisasi, memahami alur kerja, beradaptasi dengan ritme kantor, dan berinteraksi dengan rekan kerja dari berbagai latar belakang.
Jadi, magang bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, melainkan juga tentang memahami bagaimana sistem dan tanggung jawab di dunia kerja dijalankan.


Tujuan Magang

Magang memiliki tujuan utama sebagai jembatan antara teori dan praktik.
Dalam prosesnya, mahasiswa diajak untuk merasakan pengalaman nyata yang selama ini belum pernah ditemui di lingkungan kampus.

Beberapa tujuan magang antara lain sebagai berikut

  1. Menghubungkan teori dengan praktik
    Ilmu yang didapat di kelas diuji langsung di lapangan. Misalnya, mahasiswa jurusan komunikasi bisa mempraktikkan cara membuat strategi kampanye media yang efektif.

  2. Belajar budaya kerja dan profesionalisme
    Melalui magang, seseorang belajar cara bersikap di lingkungan profesional, mulai dari cara berpakaian, berkomunikasi, hingga mengatur waktu kerja.

  3. Menemukan minat dan arah karier
    Pengalaman magang dapat membantu mengenali bidang pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan minat pribadi.

  4. Membangun relasi dan pengalaman kerja
    Selama magang, peserta dapat berkenalan dengan orang-orang profesional yang kelak bisa menjadi jaringan kerja atau bahkan membuka peluang karier di masa depan.

Manfaat Magang

Magang memberikan banyak manfaat yang tidak hanya berguna untuk nilai akademik, tetapi juga untuk pengembangan diri.

Beberapa manfaat penting yang bisa diperoleh antara lain

  • Pengalaman nyata
    Peserta bisa melihat langsung bagaimana teori diterapkan dalam aktivitas kerja sehari-hari.

  • Peningkatan keterampilan
    Baik keterampilan teknis maupun kemampuan komunikasi, problem solving, dan manajemen waktu.

  • Kepercayaan diri
    Magang membentuk mental yang lebih siap menghadapi tanggung jawab dan tekanan di dunia kerja.

  • Nilai tambah karier
    Pengalaman magang sering kali menjadi pertimbangan penting bagi perusahaan dalam merekrut karyawan baru.

Magang sebagai Sarana Pengembangan Soft Skill

Selain memberikan pengalaman kerja, magang juga melatih berbagai keterampilan nonteknis atau soft skill yang sangat dibutuhkan di dunia profesional.

Beberapa di antaranya adalah

  • Komunikasi
    Kemampuan untuk menyampaikan ide, berdiskusi, dan bekerja sama dengan rekan kerja.

  • Pemecahan masalah
    Belajar menemukan solusi saat menghadapi kendala di pekerjaan.

  • Kerjasama tim
    Memahami pentingnya koordinasi dan kolaborasi dalam mencapai tujuan bersama.

  • Adaptasi
    Setiap tempat kerja memiliki budaya dan ritme berbeda, sehingga kemampuan beradaptasi menjadi sangat penting.

Penutup

Magang bukan hanya kegiatan formalitas untuk memenuhi kewajiban akademik.
Magang adalah kesempatan untuk belajar langsung tentang dunia kerja, membangun karakter profesional, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan karier.

Melalui magang, seseorang belajar untuk lebih disiplin, terbuka terhadap masukan, serta mampu mengembangkan potensi diri.
Pengalaman selama magang akan menjadi bekal berharga untuk memasuki dunia kerja yang sebenarnya.

Jadi, ketika kesempatan magang datang, jangan ragu untuk mengambilnya.
Anggaplah magang sebagai investasi diri menuju masa depan yang lebih siap, mandiri, dan berdaya saing.

Tuesday, 28 October 2025

Hubungan Industrial 5 : "Majalah Narwastu: Jendela Informasi dari Kota ke Kampung"

 


Halo teman-teman! 👋
Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, saya sering membahas bagaimana media digital kini mendominasi kehidupan kita. Semua serba cepat, serba daring, dan serba visual. Tapi, kunjungan saya ke Majalah Narwastu memberi pelajaran yang berbeda: bahwa di balik hiruk-pikuk media online, masih ada media cetak yang bekerja dengan hati  membawa cahaya informasi dari kota ke kampung.


Media yang Menyebarkan Harapan

Majalah Narwastu bukan hanya sekadar majalah rohani atau berita. Ia adalah jembatan informasi yang menghubungkan masyarakat kota dengan mereka yang tinggal di pelosok  tempat di mana sinyal internet kadang masih jadi barang langka.
Majalah ini dikirim ke kampung-kampung, dan sering kali satu eksemplar dibaca bergantian oleh puluhan orang.

Buat anak-anak di desa, Narwastu bukan sekadar bacaan, tapi jendela dunia.
Lewat kisah-kisah tokoh inspiratif di dalamnya, mereka belajar untuk berani bermimpi  bahwa asal punya tekad, mereka pun bisa sukses, meski berasal dari tempat sederhana.

Saat Media Menjadi Misi, Bukan Sekadar Bisnis

Yang membuat saya kagum adalah semangat idealisme di balik tim redaksi Narwastu.
Di era ketika banyak media mengejar klik dan trending, mereka memilih tetap menulis dengan makna.
Kontennya tidak sensasional, tapi menyentuh hati  mengajak pembacanya merenung, belajar, dan menumbuhkan nilai-nilai kebaikan.

Sebagai mahasiswa komunikasi, saya jadi sadar: media bukan hanya alat penyampai pesan, tapi juga pembentuk karakter masyarakat.
Dan Narwastu melakukannya dengan cara yang sederhana tapi efektif  lewat lembaran kertas yang berpindah tangan dari satu pembaca ke pembaca lain.

Menghidupkan Literasi di Tempat yang Terlupakan

Di banyak daerah, membaca masih dianggap kemewahan.
Karena itu, keberadaan Majalah Narwastu menjadi sesuatu yang luar biasa.
Ia hadir di tempat yang mungkin tidak punya sinyal kuat, tapi punya rasa ingin tahu yang besar.
Ia hadir di tengah keterbatasan teknologi, tapi menumbuhkan kekuatan imajinasi dan pengetahuan.

Bayangkan, satu majalah bisa menjadi sumber inspirasi bagi satu desa.
Anak-anak membaca kisah perjuangan tokoh inspiratif, lalu tumbuh keinginan untuk berjuang seperti mereka. Inilah kekuatan komunikasi yang sesungguhnya  bukan sekadar menyampaikan informasi, tapi menyulut semangat perubahan.

Penutup

Kunjungan ke Majalah Narwastu membuat saya melihat wajah lain dari dunia media.
Di tengah era digital yang serba cepat, masih ada media yang berjalan pelan tapi jejaknya dalam.
Bagi saya, Narwastu bukan sekadar majalah, tapi jendela harapan dari kota untuk kampung-kampung di Indonesia.

Karena selama masih ada satu anak kampung yang bermimpi setelah membaca Narwastu,
maka jurnalisme belum mati ia hanya berganti bentuk, tapi tetap membawa cahaya bagi mereka yang haus akan pengetahuan.

Magang 8 : Ketika Pengalaman Bertemu Ruang Belajar

  Halo Genks!  Jujur saja, saya tidak pernah membayangkan akan menulis blog tentang magang di usia yang sudah kepala 3 inih wkwkwk . Di usi...