Wednesday, 7 January 2026

Hubungan Industrial 8 : Bukan Soal Gaji, Tapi Rasa Aman: Pelajaran Kepemimpinan dari Tempat Kerja Pertama Saya




Halo teman-teman! 👋

Pernah nggak sih kita berada di satu tempat kerja yang membuat kita bertahan bukan karena angka di slip gaji, tapi karena rasa aman, nyaman, dan dihargai sebagai manusia? Saya pernah. Dan pengalaman itu masih saya bawa sampai hari ini.

Belajar Bekerja, Belajar Menjadi Manusia

Beberapa tahun lalu, saya bekerja di sebuah perusahaan ritel teknologi besar sebut saja perusahaan X. Saat itu, posisi saya adalah product trainer. Saya menjalani peran tersebut lebih dari lima tahun waktu yang cukup panjang untuk sebuah perjalanan profesional.

Kalau bicara soal materi, jujur saja, kondisi saat itu tidak bisa dibilang “wah”. Gaji saya lebih kecil dibandingkan para sales yang saya latih. Mereka punya insentif dan bonus bulanan, sementara saya hanya menerima gaji tetap. Secara logika finansial, seharusnya saya mudah tergoda untuk pindah. Tapi nyatanya, saya bertahan.

Kenapa?

Karena lingkungan kerjanya suportif dengan cara yang jarang saya temui di tempat lain.

Atasan Bukan Sekadar Bos, Tapi Coach

Di sana, atasan saya tidak memosisikan diri sebagai penguasa, melainkan sebagai coach. Bukan hanya fokus pada target, tapi benar-benar memikirkan pengembangan bawahannya. Saya tidak hanya diajari apa yang harus dikerjakan, tapi juga kenapa hal itu penting dan bagaimana cara bertumbuh sebagai profesional.

Saat itu, latar belakang pendidikan saya masih lulusan SMA. Jujur, saya merasa tempat kerja tersebut seperti ruang belajar lanjutan. Saya mendapatkan banyak ilmu dasar: komunikasi, kepemimpinan, empati, hingga cara memandang pekerjaan secara sehat. Kantor bukan hanya tempat mencari nafkah, tapi juga tempat membentuk karakter.

Bekerja, Tapi Keluarga Tetap Nomor Satu

Salah satu nilai paling kuat yang saya dapatkan di sana adalah satu hal sederhana tapi berdampak besar:
keluarga tidak boleh dikorbankan atas nama pekerjaan.

Nilai ini bukan sekadar jargon. Ia benar-benar dipraktikkan. Dan tanpa sadar, nilai itu tertanam dalam diri saya hingga membentuk gaya kepemimpinan saya hari ini.

Contohnya, ketika saya sudah berada di posisi memiliki tim sendiri di perusahaan terakhir. Suatu hari, salah satu anggota tim saya harus sering izin karena ayahnya sakit keras dan dirawat di rumah sakit. Awalnya ia hanya meminta pulang lebih cepat. Tapi saya tahu, kondisinya tidak sesederhana itu.

Saya memutuskan untuk memberikan full WFH, tanpa tugas yang mengharuskan ke kantor. Bahkan, saya membuat grup WhatsApp baru dan tidak emmasukannya dalam group, agar dia bisa fokus saat menjaga ayahnya dan menganggap bawh situasi pekerjaan saat ini ini sedang "aman".

Hampir satu bulan kondisi ini berlangsung. Hingga akhirnya, ayahnya wafat.

Dan sampai hari ini, saya tidak pernah menyesali keputusan itu. Justru sebaliknya. Saya merasa keputusan tersebut keputusan yang paling tepat saya ambil saat itu, karena saya merasa itu adalah bentuk kepemimpinan yang paling manusiawi, suatu pembelajaran yang dulu saya pelajari secara tidak langsung dari tempat kerja pertama yang membentuk saya.

Lebih dari Sekadar Pekerjaan

Pengalaman bekerja di perusahaan X mengajarkan saya bahwa tempat kerja yang sehat tidak selalu tentang gaji terbesar atau jabatan tertinggi. Kadang, ituadalah ruang aman untuk belajar, berkembang, dan pembentukan akrakter. saya merasa beruntung karena di "tempa" di tempat yang baik sehingga menjadi pribadi saat ini karena kita bisa memilih pekerjaan tapi kita tidak bisa memilih pimpinan.

Dan mungkin, itulah alasan kenapa saya bisa bertahan lebih dari lima tahun di sana. Karena pada akhirnya, rasa nyaman dan nilai yang kita pegang sering kali lebih mahal dari sekadar angka.

No comments:

Post a Comment

Magang 8 : Ketika Pengalaman Bertemu Ruang Belajar

  Halo Genks!  Jujur saja, saya tidak pernah membayangkan akan menulis blog tentang magang di usia yang sudah kepala 3 inih wkwkwk . Di usi...