Halo teman-teman! 👋
Pernah nggak sih merasa kalau setelah jam kerja selesai, kita sepenuhnya bebas melakukan apa saja di media sosial? Nyatanya, di era digital sekarang, batas antara kehidupan personal dan profesional semakin kabur.
Di era digital saat ini, satu hal penting semakin terasa: etika profesi tidak berhenti ketika jam kerja berakhir. Justru di ruang publik digital, identitas profesional sering kali semakin terlihat dan mudah dinilai oleh publik.
Etika Profesi: Bukan Sekadar Aturan di Kantor
Secara sederhana, etika profesi adalah pedoman nilai dan norma yang mengarahkan perilaku seseorang dalam menjalankan peran profesionalnya. Etika ini menuntut tanggung jawab moral, integritas, dan kehati-hatian, terutama ketika tindakan seseorang dapat memengaruhi kepercayaan publik.
Masalahnya, banyak orang masih memandang etika profesi hanya berlaku di kantor, saat mengenakan seragam, atau selama jam kerja formal. Padahal, di era media sosial, perilaku kita di ruang publik digital sering kali dipersepsikan sebagai cerminan dari profesi dan institusi tempat kita bekerja.
Media Sosial dan Kaburnya Batas Profesional
Perkembangan teknologi dan media sosial membuat aktivitas profesional tidak lagi terbatas pada ruang kerja fisik. Setiap unggahan, komentar, atau respons di media sosial bisa diakses oleh siapa saja, kapan saja. Di sinilah tantangannya muncul.
Penelitian menunjukkan bahwa media sosial kerap menjadi ruang turunnya kehati-hatian dalam berkomunikasi. Unggahan yang bersifat emosional, spontan, atau personal bisa dengan cepat disebarkan dan ditafsirkan secara luas. Akibatnya, risiko pelanggaran etika profesi pun meningkat, meskipun niat awalnya tidak selalu buruk.
Ketika Peristiwa Personal Menjadi Masalah Profesional
Salah satu contoh nyata dari kondisi ini adalah kasus kehilangan tumbler di kereta yang viral di media sosial. Peristiwa yang awalnya bersifat personal berubah menjadi konsumsi publik setelah diunggah secara digital. Reaksi netizen pun bermunculan dalam skala besar.
Yang menarik, fokus publik tidak hanya tertuju pada peristiwa kehilangan itu sendiri, tetapi juga pada identitas profesional individu yang terlibat serta institusi tempat ia bekerja. Dari sinilah terlihat bahwa ruang digital mampu menggeser peristiwa personal menjadi persoalan profesional.
Dampak Sosial dan Profesional yang Tidak Bisa Diabaikan
Di era digital, reaksi publik dapat menyebar sangat cepat. Ketika sebuah unggahan viral, dampaknya sering kali tidak berhenti pada individu, tetapi juga menyeret nama institusi. Reputasi organisasi, kepercayaan publik, dan hubungan dengan pemangku kepentingan bisa ikut terpengaruh.
Hal ini menunjukkan bahwa tekanan sosial di ruang digital memiliki konsekuensi nyata. Bukan hanya soal citra, tetapi juga keputusan profesional yang diambil oleh institusi sebagai respons terhadap opini publik.
Tanggung Jawab Bersama: Individu dan Institusi
Etika profesi bukan hanya tanggung jawab individu. Institusi juga memiliki peran penting dalam menetapkan pedoman, batasan, serta pembinaan etika bagi para profesionalnya. Di sisi lain, individu dituntut untuk sadar bahwa setiap tindakan komunikasi di ruang publik digital membawa konsekuensi.
Dengan kata lain, profesionalisme di era digital menuntut kerja sama antara kesadaran personal dan sistem etika institusional.
Refleksi: Etika sebagai Identitas yang Melekat
Dari kasus dan pembahasan ini, satu hal menjadi jelas: etika profesi adalah tanggung jawab yang melekat, bukan aturan situasional. Media sosial telah membuat identitas profesional sulit dilepaskan dari kehidupan personal, terutama ketika berada di ruang publik digital.
Karena itu, kehati-hatian, empati, dan kesadaran etis menjadi kunci agar kita tidak terjebak pada dampak profesional yang sebenarnya bisa dihindari.
Penutup
Jam kerja boleh selesai. Seragam boleh dilepas.
Namun di era digital, identitas profesional tetap berjalan bersama kita.
Seperti kata John Wooden:
“Your reputation is what people think you are, your character is what you really are.”
Pada akhirnya, etika profesi bukan hanya tentang citra di mata publik, tetapi tentang karakter yang konsisten, baik saat diawasi maupun tidak. Dan di dunia digital yang serba terbuka, karakter itulah yang paling mudah terlihat.
Sumber
Azzahra, U., dkk. (2024). Etika profesi dan profesionalisme dalam praktik public relations di era digital. Jurnal El-Mujtama.
Nadeaka, L. V., dkk. (n.d.). Etika profesi dalam komunikasi digital.
Puspitarani, S., dkk. (2025). Etika profesi dan tanggung jawab komunikasi di era media digital.
Turnip, R., & Siahaan, H. (2021). Etika komunikasi dan media sosial dalam konteks profesional.
Pos Kota. (2025). Dihujat netizen, Anita Dewi penumpang KRL yang bikin petugas PT KAI dipecat gara-gara tumbler.
Tribunnews Bogor. (2025). Kronologi viral kasus tumbler di KRL dan isi percakapan yang beredar di media sosial.
Wooden, J. (n.d.). Reflections on character and leadership.

No comments:
Post a Comment