Halo teman-teman! 👋
Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, saya sering membahas bagaimana media digital kini mendominasi kehidupan kita. Semua serba cepat, serba daring, dan serba visual. Tapi, kunjungan saya ke Majalah Narwastu memberi pelajaran yang berbeda: bahwa di balik hiruk-pikuk media online, masih ada media cetak yang bekerja dengan hati membawa cahaya informasi dari kota ke kampung.
Media yang Menyebarkan Harapan
Majalah Narwastu bukan hanya sekadar majalah rohani atau berita. Ia adalah jembatan informasi yang menghubungkan masyarakat kota dengan mereka yang tinggal di pelosok tempat di mana sinyal internet kadang masih jadi barang langka.
Majalah ini dikirim ke kampung-kampung, dan sering kali satu eksemplar dibaca bergantian oleh puluhan orang.
Buat anak-anak di desa, Narwastu bukan sekadar bacaan, tapi jendela dunia.
Lewat kisah-kisah tokoh inspiratif di dalamnya, mereka belajar untuk berani bermimpi bahwa asal punya tekad, mereka pun bisa sukses, meski berasal dari tempat sederhana.
Saat Media Menjadi Misi, Bukan Sekadar Bisnis
Yang membuat saya kagum adalah semangat idealisme di balik tim redaksi Narwastu.
Di era ketika banyak media mengejar klik dan trending, mereka memilih tetap menulis dengan makna.
Kontennya tidak sensasional, tapi menyentuh hati mengajak pembacanya merenung, belajar, dan menumbuhkan nilai-nilai kebaikan.
Sebagai mahasiswa komunikasi, saya jadi sadar: media bukan hanya alat penyampai pesan, tapi juga pembentuk karakter masyarakat.
Dan Narwastu melakukannya dengan cara yang sederhana tapi efektif lewat lembaran kertas yang berpindah tangan dari satu pembaca ke pembaca lain.
Menghidupkan Literasi di Tempat yang Terlupakan
Di banyak daerah, membaca masih dianggap kemewahan.
Karena itu, keberadaan Majalah Narwastu menjadi sesuatu yang luar biasa.
Ia hadir di tempat yang mungkin tidak punya sinyal kuat, tapi punya rasa ingin tahu yang besar.
Ia hadir di tengah keterbatasan teknologi, tapi menumbuhkan kekuatan imajinasi dan pengetahuan.
Bayangkan, satu majalah bisa menjadi sumber inspirasi bagi satu desa.
Anak-anak membaca kisah perjuangan tokoh inspiratif, lalu tumbuh keinginan untuk berjuang seperti mereka. Inilah kekuatan komunikasi yang sesungguhnya bukan sekadar menyampaikan informasi, tapi menyulut semangat perubahan.
Penutup
Kunjungan ke Majalah Narwastu membuat saya melihat wajah lain dari dunia media.
Di tengah era digital yang serba cepat, masih ada media yang berjalan pelan tapi jejaknya dalam.
Bagi saya, Narwastu bukan sekadar majalah, tapi jendela harapan dari kota untuk kampung-kampung di Indonesia.
Karena selama masih ada satu anak kampung yang bermimpi setelah membaca Narwastu,
maka jurnalisme belum mati ia hanya berganti bentuk, tapi tetap membawa cahaya bagi mereka yang haus akan pengetahuan.
No comments:
Post a Comment