Saturday, 10 January 2026

Hubungan Industrial 9 : Perempuan dan Dunia Kerja: Catatan dari Balik Layar Webinar

 


Halo Genks!

Jujur saja, ngurus acara webinar dengan tema perempuan dan dunia kerja itu rasanya beda. Dari awal kami sadar, ini bukan topik yang bisa diperlakukan sekadar formalitas acara. Bukan juga sekadar agenda yang lewat begitu saja. Ada banyak realitas di balik tema ini yang sering kita dengar, tapi jarang benar benar kita duduk dan pikirkan.

Webinar ini kami selenggarakan pada Sabtu, 10 Januari 2026, dengan menghadirkan Ibu Enti Roswati dan Ibu Serepina Tiur Maida, serta dipandu oleh Kak Charrys Gabriyella sebagai moderator. Dari proses persiapan sampai pelaksanaan, satu hal yang terus terasa adalah bahwa isu perempuan di dunia kerja itu dekat. Nyata. Dan sering kali terjadi di sekitar kita tanpa disadari.

Perempuan Bekerja dan Kontribusi yang Tidak Kecil

Hari ini perempuan bekerja bukan lagi hal yang langka. Perempuan hadir di berbagai sektor, dari pekerjaan profesional sampai posisi kepemimpinan. Mereka terlibat dalam pengambilan keputusan, pengembangan ide, inovasi, dan kerja tim. Keberagaman gender justru sering membuat proses kerja jadi lebih kaya dan kolaboratif.

Tapi di balik kontribusi itu, ada realitas lain yang tidak selalu seimbang. Diskriminasi upah masih terjadi. Kesempatan karier sering tidak setara. Beban kerja ganda seolah dianggap hal biasa. Stereotip tentang perempuan yang dianggap kurang tegas atau terlalu emosional masih sering muncul.

Di titik ini, bekerja bagi perempuan sering kali bukan hanya soal profesionalitas, tapi juga soal bertahan.

Kekerasan yang Sering Tidak Terlihat

Salah satu hal yang paling membuka mata dari webinar ini adalah pemahaman bahwa kekerasan tidak selalu berbentuk fisik. Kekerasan bisa hadir dalam bentuk tekanan psikologis, pelecehan verbal, kontrol berlebihan, candaan yang merendahkan, sampai kekerasan seksual yang sering disamarkan sebagai hal sepele.

Relasi kuasa menjadi akar dari banyak kasus. Ketika satu pihak merasa lebih berkuasa, batas antara bercanda dan melecehkan menjadi kabur. Banyak korban memilih diam bukan karena tidak terluka, tetapi karena takut, bingung, dan merasa tidak punya ruang aman untuk bersuara.

Ironisnya, kekerasan sering terjadi di ruang yang seharusnya paling aman. Rumah, sekolah, dan tempat kerja.

Dunia Kerja yang Terlihat Normal Tapi Tidak Selalu Sehat

Dalam dunia kerja, ada banyak hal yang sudah terlalu lama dinormalisasi. Candaan seksis dianggap biasa. Tekanan kerja dibungkus atas nama loyalitas. Perempuan yang bersuara sering dicap emosional. Perempuan yang memilih keluarga dianggap kurang profesional.

Padahal lingkungan kerja yang sehat seharusnya memberi rasa aman. Aman untuk bekerja, aman untuk berkembang, dan aman untuk menjadi manusia tanpa rasa takut dilecehkan atau direndahkan.

Di sinilah perlindungan menjadi penting. Bukan hanya perlindungan hukum, tetapi juga perlindungan sosial, psikologis, dan budaya kerja yang saling menghormati.

Perlindungan Bukan Sekadar Aturan

Webinar ini juga mengingatkan bahwa perlindungan tidak cukup hanya lewat kebijakan dan aturan tertulis. Kesadaran kolektif punya peran yang jauh lebih besar. Edukasi yang berkelanjutan, sistem pelaporan yang aman, dan keberanian untuk menolak pelecehan harus menjadi bagian dari keseharian.

Perlindungan bukan berarti memanjakan. Perlindungan berarti memastikan setiap orang memiliki hak yang sama untuk bekerja tanpa rasa takut. Perempuan tidak membutuhkan belas kasihan. Yang dibutuhkan adalah keadilan dan ruang aman.

Harapan yang Mulai Terlihat

Meski pembahasannya berat, webinar ini tidak berhenti pada pesimisme. Ada harapan yang perlahan muncul. Kesadaran tentang kesetaraan gender semakin terbuka. Isu pelecehan tidak lagi sepenuhnya ditutup tutupi. Ruang diskusi mulai tercipta, meski jalannya masih panjang.

Harapan itu ada pada perubahan sikap, budaya, dan cara kita memperlakukan sesama. Dunia kerja yang aman dan adil bukan hal mustahil jika perlindungan benar benar dijadikan nilai, bukan sekadar tulisan di dokumen.

Penutup: Jangan Diam dan Jangan Sendirian

Webinar ini pada akhirnya mengingatkan kita pada satu hal penting. Kekerasan bukan sesuatu yang harus ditanggung sendirian. Dan diam bukan solusi, meski sering terasa sebagai pilihan paling aman.

Buat siapa pun yang pernah mengalami kekerasan, pelecehan, atau perlakuan tidak adil, ingat satu hal sederhana. Kamu tidak salah. Kamu berhak merasa aman, didengar, dan dilindungi.

Dan buat kita yang mungkin pernah melihat, mendengar, atau mencurigai adanya kekerasan di sekitar kita, jangan berpikir bahwa itu bukan urusan kita. Kepedulian kecil bisa jadi langkah besar untuk menghentikan kekerasan yang lebih panjang.

Jika kamu menjadi korban atau saksi, jangan ragu untuk melakukan pelaporan ke PPA. Lembaga ini ada bukan untuk menghakimi, tapi untuk melindungi, mendampingi, dan memastikan hak hak korban tetap terpenuhi. Pelaporan bukan tanda kelemahan. Justru itu bentuk keberanian.

Karena pada akhirnya, ruang aman tidak tercipta dengan sendirinya. Ia dibangun dari keberanian untuk bersuara dan dari keputusan untuk tidak lagi membiarkan kekerasan dianggap biasa.

Kamu tidak sendiri. Dan selalu ada tempat untuk mencari bantuan.

No comments:

Post a Comment

Magang 8 : Ketika Pengalaman Bertemu Ruang Belajar

  Halo Genks!  Jujur saja, saya tidak pernah membayangkan akan menulis blog tentang magang di usia yang sudah kepala 3 inih wkwkwk . Di usi...