Tuesday, 28 October 2025

Hubungan Industrial 5 : "Majalah Narwastu: Jendela Informasi dari Kota ke Kampung"

 


Halo teman-teman! 👋
Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, saya sering membahas bagaimana media digital kini mendominasi kehidupan kita. Semua serba cepat, serba daring, dan serba visual. Tapi, kunjungan saya ke Majalah Narwastu memberi pelajaran yang berbeda: bahwa di balik hiruk-pikuk media online, masih ada media cetak yang bekerja dengan hati  membawa cahaya informasi dari kota ke kampung.


Media yang Menyebarkan Harapan

Majalah Narwastu bukan hanya sekadar majalah rohani atau berita. Ia adalah jembatan informasi yang menghubungkan masyarakat kota dengan mereka yang tinggal di pelosok  tempat di mana sinyal internet kadang masih jadi barang langka.
Majalah ini dikirim ke kampung-kampung, dan sering kali satu eksemplar dibaca bergantian oleh puluhan orang.

Buat anak-anak di desa, Narwastu bukan sekadar bacaan, tapi jendela dunia.
Lewat kisah-kisah tokoh inspiratif di dalamnya, mereka belajar untuk berani bermimpi  bahwa asal punya tekad, mereka pun bisa sukses, meski berasal dari tempat sederhana.

Saat Media Menjadi Misi, Bukan Sekadar Bisnis

Yang membuat saya kagum adalah semangat idealisme di balik tim redaksi Narwastu.
Di era ketika banyak media mengejar klik dan trending, mereka memilih tetap menulis dengan makna.
Kontennya tidak sensasional, tapi menyentuh hati  mengajak pembacanya merenung, belajar, dan menumbuhkan nilai-nilai kebaikan.

Sebagai mahasiswa komunikasi, saya jadi sadar: media bukan hanya alat penyampai pesan, tapi juga pembentuk karakter masyarakat.
Dan Narwastu melakukannya dengan cara yang sederhana tapi efektif  lewat lembaran kertas yang berpindah tangan dari satu pembaca ke pembaca lain.

Menghidupkan Literasi di Tempat yang Terlupakan

Di banyak daerah, membaca masih dianggap kemewahan.
Karena itu, keberadaan Majalah Narwastu menjadi sesuatu yang luar biasa.
Ia hadir di tempat yang mungkin tidak punya sinyal kuat, tapi punya rasa ingin tahu yang besar.
Ia hadir di tengah keterbatasan teknologi, tapi menumbuhkan kekuatan imajinasi dan pengetahuan.

Bayangkan, satu majalah bisa menjadi sumber inspirasi bagi satu desa.
Anak-anak membaca kisah perjuangan tokoh inspiratif, lalu tumbuh keinginan untuk berjuang seperti mereka. Inilah kekuatan komunikasi yang sesungguhnya  bukan sekadar menyampaikan informasi, tapi menyulut semangat perubahan.

Penutup

Kunjungan ke Majalah Narwastu membuat saya melihat wajah lain dari dunia media.
Di tengah era digital yang serba cepat, masih ada media yang berjalan pelan tapi jejaknya dalam.
Bagi saya, Narwastu bukan sekadar majalah, tapi jendela harapan dari kota untuk kampung-kampung di Indonesia.

Karena selama masih ada satu anak kampung yang bermimpi setelah membaca Narwastu,
maka jurnalisme belum mati ia hanya berganti bentuk, tapi tetap membawa cahaya bagi mereka yang haus akan pengetahuan.

Sunday, 26 October 2025

Hubungan Industrial 4 : Dari Kunjungan ke RSP Box: Belajar Humanisme Industri dari Pabrik Kardus

 


Halo teman-teman! 👋
Beberapa waktu lalu, kami mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi melakukan kunjungan industri ke RSP Box, sebuah pabrik kardus yang bergerak di bidang packaging untuk berbagai kebutuhan online shop. Kunjungan ini bukan sekadar jalan-jalan akademik, tapi juga kesempatan buat ngobrol langsung dengan Bapak Tasroni, pemilik RSP Box, dalam sesi podcast yang seru banget bareng dosen pembimbing kami, Ibu Serepina.

Awal Mula Cerita

Begitu tiba di lokasi, suasana pabrik langsung terasa hidup. Suara mesin pemotong dan lipatan kardus bersahutan dengan tawa para pekerja.
Pak Tasroni menjelaskan bahwa RSP Box memang bukan perusahaan raksasa masih tergolong UMKM, tapi punya peran penting dalam rantai industri digital.
Produk mereka digunakan oleh berbagai pelaku usaha online yang kini menjamur di marketplace.
“Sekarang hampir semua butuh kemasan,” kata beliau sambil tersenyum. “Dari toko baju sampai penjual camilan, semua ingin produk mereka dikemas rapi dan aman.”

Dari Kardus ke Nilai Kerja

Yang menarik, di balik tumpukan kardus itu tersimpan nilai hubungan industrial yang humanis.
Pak Tasroni menekankan bahwa pekerjanya bukan sekadar tenaga produksi, tapi bagian dari keluarga besar RSP Box.
“Kalau karyawan nyaman, hasil kerja juga bagus,” ujarnya.

Pendekatan sederhana ini justru mencerminkan konsep human capital bagaimana SDM menjadi aset utama perusahaan, bukan sekadar biaya operasional.
Ibu Serepina, selaku dosen pembimbing, menambahkan bahwa pola seperti ini penting di tengah era digital dan otomatisasi. “Mesin bisa menggantikan kecepatan, tapi bukan empati,” katanya.

Pesan itu menancap kuat buat kami sebagai mahasiswa komunikasi: teknologi boleh maju, tapi hubungan manusia tetap fondasi utama industri.

Tantangan dan Adaptasi

Dalam podcast, Pak Tasroni juga bercerita tentang tantangan menjalankan UMKM di bidang produksi.
Mulai dari fluktuasi harga bahan baku, permintaan pasar online yang cepat berubah, sampai soal menjaga produktivitas tanpa mengorbankan kesejahteraan pekerja.
Ia mengaku, kunci bertahan ada pada komunikasi yang terbuka antara pemilik dan karyawan.
“Kalau ada masalah, kita bahas bareng. Jangan disimpan,” katanya.

Sebagai mahasiswa FIKOM, kami melihat langsung bagaimana teori komunikasi organisasi dan hubungan industrial diterapkan nyata di lapangan.
Dialog antara pimpinan dan pekerja bukan cuma formalitas, tapi budaya kerja yang membangun kepercayaan.

Belajar Lebih dari Sekadar Produksi

Kunjungan ini bikin kami sadar bahwa industri sekecil apa pun bisa jadi ruang belajar besar.
Dari pabrik kardus sederhana, kami belajar tentang:

  • bagaimana komunikasi menentukan keharmonisan kerja,

  • pentingnya menghargai setiap individu di tempat kerja,

  • dan bagaimana UMKM bisa tetap relevan di era digital lewat adaptasi dan empati.

Penutup

Pulang dari RSP Box, saya jadi berpikir: mungkin kardus yang sederhana itu justru simbol dari sesuatu yang penting wadah yang melindungi, menyatukan, dan menjaga isi di dalamnya.
Begitu juga dunia kerja; dibutuhkan “wadah” hubungan yang kuat antara manusia, teknologi, dan nilai.

Di balik tumpukan kardus dan suara mesin, saya belajar satu hal:
Industri yang produktif bukan hanya soal kecepatan produksi, tapi tentang bagaimana manusia di manusiakan.


Butuh Kardus atau Kemasan untuk Usaha Kamu?

Kalau kamu lagi cari tempat bikin box packaging, kardus custom, atau kemasan untuk bisnis online,
langsung aja hubungi CV. RSP BOX tempat kami belajar banyak hal tentang industri yang humanis dan berkualitas!

CV. RSP BOX
Kontak: 0858-4227-7363 (Pak Ronny)
Alamat: RT.003/RW.002, Sumur Batu, Kec. Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat 17154
Instagram: @RspBox
TikTok: @RspBox
WhatsApp: 0858-4227-7363

Karena di balik setiap kemasan yang kuat, ada semangat kerja dan hubungan manusia yang kokoh 💪


Wednesday, 22 October 2025

Magang 2 : Kreativitas dan Inisiatif dalam Pekerjaan: Belajar dari Pengalaman Membuat Materi "Bahaya Judi Online"




Halo Genks!

Pernah nggak sih kita punya ide bagus banget buat kebaikan bersama, tapi ternyata pas mau dijalankan… mentok di persetujuan atau malah ditolak?

Nah, pengalaman ini benar-benar ngasih pelajaran penting tentang bagaimana kreativitas, komunikasi, problem solving, dan adaptasi berperan besar dalam dunia kerja. Yuk, kita bahas bareng-bareng!

Awal Mula Ide: Inisiatif yang Datang dari Keprihatinan dan Observasi

Waktu itu saya sering ngobrol sama beberapa mitra ojek online, dan dari cerita-cerita mereka, kita mulai sadar kalau judi online mulai jadi masalah serius.
Banyak yang awalnya cuma “iseng”, tapi lama-lama jadi kecanduan gimana ga kecanduan karena untuk isi saldo atau bahasanya "Depo" itu bisa dari 5000 rupiah aja. Dampaknya bukan cuma keuangan, tapi juga perilaku kerja yang mengarah ke fraud seperti meminta tambahan biaya melebihi argo, memalsukan alasan parkir atau tol, bahkan sampai mengambil barang pelanggan.

Sebagai bagian dari tim yang peduli dengan integritas mitra, kita punya inisiatif untuk membuat materi edukasi tentang bahaya judi online. Tujuannya sederhana: mencegah sebelum terlambat.

Proses Kreatif: Dari Ide ke Aksi

Kita mulai menyusun konsep komunikasinya dengan gaya yang ringan, tapi tetap menyentuh sisi emosional.
Isinya tentang bagaimana judi online bisa menghancurkan keuangan dan kepercayaan pelanggan, disertai contoh nyata yang sering terjadi di lapangan.
Setelah konsepnya siap, kita ajukan ke manajer untuk approval, dan ternyata langsung disetujui! Wah, rasanya seperti langkah kecil menuju perubahan besar.

Tantangan: Ketika Ide Harus Diubah

Tapi ternyata, belum sempat di-blast ke mitra, tim marketing komunikasi melihat materi tersebut dan mengajak kita berdiskusi.
Mereka bilang, topik judi online ini cukup sensitif dan bisa dianggap terlalu mencampuri urusan pribadi mitra.
Akhirnya, setelah beberapa kali diskusi, materinya nggak jadi tayang.
Sebagai gantinya, disepakati untuk mengubah arah komunikasinya menjadi pelatihan “Cara Mengatur Keuangan Secara Sehat untuk Mitra”.

Seperti dijelaskan oleh Ibu Sere dalam pertemuan 2 di mata kuliah Hubungan Industrial (2025), dinamika kelompok berarti adanya hubungan saling ketergantungan di antara anggota tim yang bisa berubah sewaktu-waktu. Hal ini terasa banget ketika ide awal kami tentang materi “bahaya judi online” akhirnya berkembang menjadi pelatihan “pengelolaan keuangan mitra” setelah berdiskusi lintas tim.

Awalnya, jujur aja, agak kecewa. Tapi dari situ kita belajar banyak tentang pentingnya adaptasi dan komunikasi lintas tim.

Soft Skill yang Benar-Benar Terpakai

Dari pengalaman itu, kita sadar bahwa keberhasilan ide bukan cuma soal seberapa bagus gagasannya, tapi juga bagaimana kita mengomunikasikan dan menyesuaikannya dengan konteks organisasi.

Beberapa soft skill yang benar-benar terasa penting di sini antara lain:

  • Komunikasi:
    Menyampaikan ide dengan jelas dan terbuka ke berbagai pihak, termasuk mendengar alasan kenapa ide bisa ditolak.

  • Problem Solving:
    Saat ide awal ditolak, kita nggak berhenti di situ. Kita mencari cara lain agar pesan intinya tetap tersampaikan misalnya lewat edukasi pengelolaan keuangan.

  • Adaptasi:
    Dunia kerja itu dinamis. Kadang kita harus menyesuaikan diri tanpa kehilangan semangat dan tujuan utama.

Refleksi: Kreativitas Bukan Soal Hasil, Tapi Proses

Dari pengalaman ini, kita harus paham bahwa inisiatif dan kreativitas nggak selalu langsung berhasil, tapi setiap langkah yang kita ambil pasti selalu menambah pengalaman berharga.
Yang penting bukan cuma ide kita disetujui, tapi bagaimana kita bisa terus berkontribusi positif dengan cara yang bisa diterima bersama.

Pada akhirnya, meskipun pesan tentang “bahaya judi online” nggak tayang dalam bentuk awalnya, pesan moralnya tetap hidup lewat versi baru yang lebih diterima dan tetap membawa dampak baik bagi mitra.

Penutup

Kreativitas dan inisiatif dalam pekerjaan bukan cuma soal berani beda, tapi juga soal mau belajar, beradaptasi, dan tetap komunikatif.
Setiap ide punya perjalanan dan tantangannya sendiri, dan kadang dari ide yang ditolak justru muncul inovasi yang lebih baik.

Jadi, kalau kita punya ide baik, jangan takut mulai dulu. Karena dari proses itulah kita belajar menjadi pribadi yang lebih tangguh, terbuka, dan solutif di dunia kerja.

Sumber : 

Sumber:

Serepina T. Iur Maida, “Faktor Hubungan dengan Manusia dan Dinamikanya” (Materi pertemuan 2 Hubungan Industrial, Universitas Mpu Tantular)

Wednesday, 15 October 2025

Hubungan Industrial 3 : Dinamika Kelompok - Pondasi Kerja Tim yang Hidup dan Produktif

 



Halo Genks! 👋
Pernah nggak sih ngerasa kalau kerja tim itu kadang bisa super produktif, tapi di lain waktu malah bikin pusing? Padahal tugasnya sama, orangnya juga itu-itu aja. Nah, di sinilah pentingnya kita paham tentang dinamika kelompok dan hubungan manusia dalam dunia kerja.

Kalau di dunia hubungan industrial, fokusnya bukan cuma antara pekerja dan atasan, tapi juga gimana interaksi manusia di dalam tim bisa berjalan sehat dan saling menguatkan. nyok kita bahas bareng-bareng!


Apa sih Dinamika Kelompok?

Menurut Ibu Sere dalam materinya di pertemuan ke 2 dalam mata kuliah Hubungan Industrial, “dinamika kelompok adalah adanya interaksi dan interdependensi di antara anggota kelompok dengan kelompok secara keseluruhan”. Artinya, tiap orang dalam tim saling terhubung dan nggak bisa berdiri sendiri

Kata “dinamis” di sini penting banget nih karena tim bisa berubah kapan aja. Kadang semangat, kadang lelah, kadang juga muncul konflik kecil yang akhirnya bisa ganggu komunikasi dalam tim.

Dalam konteks hubungan industrial, dinamika ini menentukan apakah kerja tim bisa harmonis atau malah penuh gesekan.


Pandangan Para Ahli Tentang Dinamika Kelompok

Dalam materi pertemuan 2, Ibu Sere juga mengutip beberapa ahli:

Soerjono Soekanto
menyebut dinamika sosial sebagai “perubahan sosial dalam masyarakat yang mengalami berbagai bentuk permasalahan, baik dilakukan perorangan maupun kelompok ”Artinya, perubahan itu wajar bahkan jadi tanda kelompok masih “hidup.”

Slamet Sentosa
menekankan bahwa dinamika kelompok adalah hubungan yang “terjalin antar kelompok sosial dalam lingkungan masyarakat secara teratur dan berhubungan dengan psikologis yang jelas”Jadi bukan cuma soal kerja sama fisik, tapi juga soal ikatan emosional dan psikologis antaranggota.

Nah, di kantor, hal ini bisa berarti bukan cuma soal siapa yang paling rajin, tapi siapa yang paling bisa menjaga suasana kerja tetap positif.


Dinamika dalam Dunia Kerja: Tim yang Sehat Itu Bergerak

Dalam konteks hubungan industrial, dinamika kelompok bisa jadi cermin kesehatan organisasi.
Kalau komunikasi berjalan lancar, kepercayaan tumbuh, dan peran tiap anggota jelas, maka tim bisa berkembang secara alami.
Tapi kalau suasana kerja tegang, tidak ada ruang untuk bicara jujur, atau atasan terlalu dominan, maka dinamika kelompok bisa terganggu.

Contoh sederhana:

Tim marketing di satu perusahaan startup bisa berubah cepat karena target penjualan yang menekan. Kalau pemimpin tim mampu membangun kepercayaan dan mendengarkan anggota, perubahan itu justru bikin tim adaptif. Tapi kalau gaya kepemimpinan kaku, anggota bisa kehilangan motivasi.


Gimana Cara Menjaga Dinamika Kelompok Tetap Sehat?

  1. Komunikasi dua arah. Jangan cuma dengar, tapi juga mau didengar.

  2. Beri ruang untuk berbeda pendapat. Perbedaan justru bisa memperkaya ide.

  3. Kenali emosi anggota tim. Kadang masalah bukan di pekerjaan, tapi di rasa lelah atau tidak dihargai.

  4. Evaluasi rutin. Sekali-sekali tim perlu refleksi: apa yang berjalan baik, apa yang perlu diperbaiki.

Ingat, kelompok yang baik bukan yang selalu setuju, tapi yang mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan arah.


Penutup

Dinamika kelompok adalah detak jantungnya kerja tim.
Seperti yang ditulis Maida, kelompok akan terus berubah  dan itu normal

Tugas kita sebagai bagian dari tim adalah menjaga agar perubahan itu tetap bergerak ke arah positif.

Karena pada akhirnya, tim yang hebat bukan yang nggak pernah punya masalah, tapi yang bisa tumbuh karena masalah itu sendiri 

Sumber:

Serepina T. Iur Maida, “Faktor Hubungan dengan Manusia dan Dinamikanya” (Materi pertemuan 2 Hubungan Industrial, Universitas Mpu Tantular)

Magang 1 : Meneropong Dunia Kerja Modern Lewat Strategi 360 Feedback




Halo teman-teman! 👋


Pernah nggak sih kamu ngerasa kerja udah maksimal banget, tapi pas penilaian kinerja hasilnya nggak sesuai ekspektasi? atau sebaliknya kamu ngerasa biasa aja, tapi ternyata atasan dan rekan kerja menilai kamu tinggi banget?

Nah, ternyata hal-hal kayak gitu sering terjadi karena sistem penilaian di banyak tempat masih satu arah dari atasan ke bawahan. Padahal dunia kerja sekarang udah jauh lebih kompleks dan kolaboratif.
Makanya muncul sistem baru yang disebut 360 feedback. Yuk, bahas bareng!

Secara sederhana, 360 feedback adalah sistem penilaian kinerja di mana seseorang dinilai dari berbagai arah bukan cuma oleh atasan, tapi juga oleh rekan kerja, bawahan, dan bahkan dirinya sendiri.

Tujuannya? Supaya hasil penilaian lebih objektif, akurat, dan adil.

Kalau penilaian tradisional itu seperti nonton dari satu kamera, maka 360° feedback ibarat pakai CCTV dari segala sudut. Hasilnya lebih lengkap, lebih jujur, dan bisa jadi bahan refleksi diri buat setiap karyawan.


Kenapa Dunia Kerja Butuh Pendekatan Ini?

Dunia kerja sekarang nggak lagi kaku kayak dulu.
Ada startup dengan struktur datar, perusahaan dengan sistem remote, bahkan tim lintas negara.
Dalam situasi itu, kinerja nggak bisa diukur cuma dari “atas ke bawah.”
Yang dibutuhkan adalah kolaborasi, komunikasi, dan kesadaran diri.

Beberapa manfaat 360° feedback antara lain:

  1. Lebih Objektif: Penilaian datang dari berbagai arah, jadi lebih seimbang.

  2. Meningkatkan Komunikasi: Bikin karyawan lebih terbuka terhadap kritik dan apresiasi.

  3. Mendorong Pengembangan Diri: Hasilnya bisa dipakai untuk pelatihan dan coaching.

  4. Membangun Budaya Kerja yang Sehat: Semua orang belajar memberi dan menerima umpan balik dengan bijak.

Berdasarkan Penelitian, Metode Ini Efektif Loh!

Salah satu penelitian di Indonesia yang menarik datang dari Hotel Amarthahills (Prosiding Universitas Wijaya Putra, 2022).
Dalam studi itu, perusahaan menerapkan 360 feedback untuk menilai kinerja pegawai di berbagai divisi.

Hasilnya?
Rata-rata karyawan menilai dirinya lebih tinggi dibandingkan penilaian dari rekan kerja atau atasan.
Artinya, banyak pekerja yang merasa sudah optimal, padahal persepsi orang lain berbeda.
Nah, gap seperti ini justru berharga banget buat pengembangan diri.
Dari situ perusahaan bisa tahu:

  • siapa yang butuh pelatihan tambahan,

  • siapa yang bisa dijadikan mentor,

  • dan bagian mana dari sistem kerja yang perlu diperbaiki.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa penerapan 360 feedback meningkatkan kesadaran diri, tanggung jawab, dan kualitas komunikasi antarpegawai.

Tantangan Saat Diterapkan

Tentu nggak semua langsung mulus.
Beberapa kendala yang sering muncul antara lain:

  • Karyawan takut memberi penilaian jujur ke atasan,

  • Ada yang belum siap menerima kritik,

  • atau malah bingung bagaimana menilai rekan kerja secara adil.

Makanya, sebelum menerapkan sistem ini, organisasi harus membangun budaya feedback yang sehat, misalnya lewat pelatihan komunikasi dan etika kerja.


Dari Kantor ke Startup: Semua Bisa Terapkan

360 feedback bukan cuma buat hotel atau perusahaan besar aja.
Sekarang banyak startup, lembaga pendidikan, bahkan instansi pemerintahan mulai menerapkannya juga.

Di era digital, di mana kerja tim lintas divisi makin umum, sistem ini membantu organisasi untuk:

  • mengenali potensi individu,

  • membangun tim yang solid,

  • dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih manusiawi.

Penutup: Feedback Bukan Kritik, Tapi Cermin Diri

Pada akhirnya, 360 feedback bukan sekadar alat penilaian, tapi juga alat refleksi.
Lewat sistem ini, kita bisa belajar melihat diri sendiri dari perspektif orang lain — dan itu langkah pertama menuju perbaikan yang nyata.

Jadi, kalau di tempat kerjamu nanti ada program 360 feedback, jangan takut duluan ya.
Anggap aja itu cara perusahaan bilang,
“kami percaya kamu bisa lebih baik lagi.”

Sumber:

  • Perencanaan Penilaian Kinerja Karyawan dengan Metode 360 Degree Feedback dalam Meningkatkan Mutu Pelayanan Hotel Amarthahills. Prosiding Universitas Wijaya Putra, 2022.
    https://doi.org/10.38156/gesi.v10i1.269

Magang 8 : Ketika Pengalaman Bertemu Ruang Belajar

  Halo Genks!  Jujur saja, saya tidak pernah membayangkan akan menulis blog tentang magang di usia yang sudah kepala 3 inih wkwkwk . Di usi...